Ruang Belajar Karinoya

Hukum & Etika Sehari-hari

Buku Tata Krama Sehari-hari

Pindahan, upacara, makan, tempat tinggal, dan tata krama internasional

Prosedur resmi saat pindahan, membalas undangan, pantangan dalam menggunakan sumpit, alasan tidak menginjak tepi tatami, dan bertukar kartu nama. Kami merangkum per situasi tata krama yang terasa sudah diketahui tetapi sulit dijelaskan. Karena dijelaskan juga “mengapa dilakukan begitu”, Anda dapat menggunakannya saat menyampaikannya kepada orang dari luar negeri.

39 soal · 5 bidang | Terakhir diperbarui 2026-09-28

Daftar isi
  1. Prosedur Pindah Rumah (7)
  2. Upacara Adat (9)
  3. Tata Krama Makan (8)
  4. Tata Krama Tempat Tinggal (8)
  5. Tata Krama Menjamu Tamu (7)
  6. Alat latihan

Prosedur Pindah Rumah

Soal 1 | Batas Waktu Laporan Pindah Masuk

Berapa batas waktu untuk menyerahkan "Laporan Pindah Masuk" (tennyu todoke) ke pemerintah kota/distrik tujuan pindah?

  1. Dalam 14 hari sejak tanggal pindah
  2. Dalam 1 bulan
  3. Dalam 3 bulan
  4. Tidak ada batas waktu
Jawaban: A. Dalam 14 hari sejak tanggal pindah

Laporan pindah masuk wajib diserahkan dalam 14 hari sejak tanggal pindah. Jika terlambat tanpa alasan yang sah, dapat dikenai denda administratif hingga 50.000 yen berdasarkan Undang-Undang Buku Induk Kependudukan.

Soal 2 | Waktu Laporan Pindah Keluar

Kapan waktu yang tepat untuk menyerahkan "Laporan Pindah Keluar" (tenshutsu todoke)?

  1. Mulai 14 hari sebelum tanggal pindah yang direncanakan hingga hari-H
  2. Dalam 14 hari setelah pindah
  3. Hingga 1 bulan sebelum pindah
  4. Kapan saja boleh
Jawaban: A. Mulai 14 hari sebelum tanggal pindah yang direncanakan hingga hari-H

Berbeda dengan laporan pindah masuk, waktu penyerahan laporan pindah keluar justru sebaliknya: diserahkan ke pemerintah kota/distrik alamat lama mulai 14 hari sebelum tanggal pindah yang direncanakan hingga hari-H.

Soal 3 | Risiko Kadaluarsa Kartu My Number

Jika laporan pindah masuk tidak dilakukan tepat waktu, apa dampaknya terhadap kartu My Number?

  1. Bisa menjadi tidak berlaku (kadaluarsa), dan prosedur perpanjangan penggunaan sertifikat elektronik juga harus dilakukan dalam 90 hari setelah pindah masuk
  2. Tidak ada dampak khusus
  3. Biaya penerbitan ulang menjadi setengah harga
  4. Langsung dihentikan penggunaannya seketika
Jawaban: A. Bisa menjadi tidak berlaku (kadaluarsa), dan prosedur perpanjangan penggunaan sertifikat elektronik juga harus dilakukan dalam 90 hari setelah pindah masuk

Jika laporan pindah masuk tidak dilakukan dalam 14 hari, kartu My Number berisiko menjadi tidak berlaku. Selain itu, setelah laporan pindah masuk, prosedur perpanjangan penggunaan sertifikat elektronik juga harus dilakukan dalam 90 hari dan jangan sampai terlupa.

Soal 4 | Perubahan Alamat pada SIM

Setelah pindah rumah, bagaimana seharusnya perubahan alamat pada SIM (surat izin mengemudi) dilakukan?

  1. Ada kewajiban hukum untuk segera melakukannya, dan jika diabaikan bisa menjadi pelanggaran Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Raya
  2. Bukan kewajiban, melainkan opsional
  3. Cukup diubah sekaligus saat masa perpanjangan SIM
  4. Perubahan alamat tidak diperlukan
Jawaban: A. Ada kewajiban hukum untuk segera melakukannya, dan jika diabaikan bisa menjadi pelanggaran Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Raya

Perubahan alamat pada SIM merupakan kewajiban hukum yang harus "segera" dilakukan, dan jika diabaikan dapat dikenai sanksi sebagai pelanggaran Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Raya. Prosedurnya dilakukan di kantor polisi atau pusat SIM di alamat baru, dengan membawa dokumen identitas seperti kartu keterangan domisili (juminhyo) atau kartu My Number.

Soal 5 | Layanan Penerusan Surat Pos

Jika mengajukan "Laporan Pindah Alamat" (layanan penerusan surat) ke kantor pos, apa yang terjadi dengan surat yang dikirim ke alamat lama?

  1. Selama 1 tahun sejak tanggal pengajuan, surat akan diteruskan gratis ke alamat baru
  2. Diteruskan terus tanpa batas waktu
  3. Diteruskan berbayar hanya selama 3 bulan
  4. Jangka waktu layanan penerusan bisa dipersingkat sesuka hati
Jawaban: A. Selama 1 tahun sejak tanggal pengajuan, surat akan diteruskan gratis ke alamat baru

Jika mengajukan laporan pindah alamat ke kantor pos, surat yang ditujukan ke alamat lama akan diteruskan gratis ke alamat baru selama 1 tahun sejak tanggal pengajuan (jangka waktunya tidak bisa dipersingkat). Setelah pengajuan, dibutuhkan sekitar 3–7 hari hingga penerusan dimulai.

Soal 6 | Ketentuan Khusus Tunjangan Anak Saat Pindah

Ketika pindah antar-pemerintah daerah, apa syarat agar penerimaan tunjangan anak tetap berkelanjutan tanpa terputus?

  1. Jika mengajukan permohonan di daerah tujuan dalam 15 hari sejak hari berikutnya tanggal pindah keluar yang direncanakan, meski permohonan aktualnya mundur ke bulan berikutnya, tunjangan tetap dibayarkan secara surut
  2. Otomatis berlanjut tanpa perlu melakukan apa pun
  3. Jika mengajukan dalam 1 bulan, kapan pun akan diperlakukan sama
  4. Sebagai aturan umum, tunjangan anak dihentikan sementara setelah pindah
Jawaban: A. Jika mengajukan permohonan di daerah tujuan dalam 15 hari sejak hari berikutnya tanggal pindah keluar yang direncanakan, meski permohonan aktualnya mundur ke bulan berikutnya, tunjangan tetap dibayarkan secara surut

Tunjangan anak pada dasarnya dibayarkan mulai "bulan berikutnya dari bulan pengajuan", tetapi ada ketentuan khusus: jika mengajukan permohonan di daerah tujuan dalam 15 hari sejak hari berikutnya tanggal pindah keluar yang direncanakan, meski permohonan aktualnya mundur ke bulan berikutnya, tunjangan tetap dibayarkan secara surut (retroaktif).

Soal 7 | Batas Waktu Prosedur Asuransi Kesehatan Nasional

Berapa batas waktu laporan perubahan (pindah masuk/pindah alamat) untuk Asuransi Kesehatan Nasional (Kokumin Kenko Hoken)?

  1. Dalam 14 hari sejak tanggal pindah masuk/pindah alamat
  2. Dalam 1 bulan
  3. Dalam 3 bulan
  4. Tidak ada batas waktu khusus
Jawaban: A. Dalam 14 hari sejak tanggal pindah masuk/pindah alamat

Asuransi Kesehatan Nasional memerlukan laporan dalam 14 hari sejak tanggal pindah masuk/pindah alamat. Prosedur seperti tunjangan anak dan tunjangan bantuan anak juga pada dasarnya sama-sama dalam 14 hari, jadi berguna untuk diingat bahwa prosedur pemerintahan setelah pindah rumah banyak yang mengikuti "aturan 14 hari".

Upacara Adat

Soal 8 | Tata Krama Membalas Undangan

Saat membalas undangan pernikahan dengan melingkari "Go-shusseki" (Hadir), apa tata krama yang benar?

  1. Coret dua garis pada karakter "Go" (begitu pula "Go-ho" pada "Go-homei")
  2. Biarkan karakter "Go" tetap apa adanya
  3. Cukup melingkari seluruh kata "Go-shusseki"
  4. Tidak boleh menambahkan coretan apa pun pada kartu pos balasan
Jawaban: A. Coret dua garis pada karakter "Go" (begitu pula "Go-ho" pada "Go-homei")

Dalam membalas undangan, dianggap sopan untuk mencoret karakter "Go" yang tercetak pada "Go-shusseki" (Hadir)/"Go-kesseki" (Tidak Hadir) serta karakter "Go-ho" pada "Go-homei" dengan dua garis (sebaiknya menggunakan penggaris) atau menggantinya dengan karakter "Kotobuki" (perayaan).

Soal 9 | Karakter "Gyo" pada Kartu Pos Balasan

Bagaimana cara memperbaiki karakter "Gyo" pada tulisan "○○ Gyo" di kartu pos balasan undangan?

  1. Coret dengan dua garis, lalu tulis ulang menjadi "Sama"
  2. Biarkan seperti apa adanya
  3. Gambar bunga di atas karakter "Gyo"
  4. Lingkari karakter "Gyo"
Jawaban: A. Coret dengan dua garis, lalu tulis ulang menjadi "Sama"

Tata kramanya adalah mencoret karakter "Gyo" pada "○○ Gyo" dengan dua garis, lalu menuliskannya kembali menjadi "Sama". Dianggap lebih sopan jika mencoretnya dengan rapi menggunakan penggaris, bukan dengan tangan bebas.

Soal 10 | Gaya Yuino Kanto dan Kansai

Apa perbedaan cara pelaksanaan yuino (upacara pertunangan resmi) antara "gaya Kanto" dan "gaya Kansai"?

  1. Pada gaya Kanto, perantara (nakodo) berpindah bolak-balik satu setengah kali antara kedua keluarga, sedangkan pada gaya Kansai hanya berpindah satu kali
  2. Tidak ada perbedaan makna antara gaya Kanto dan gaya Kansai
  3. Umumnya jumlah barang seserahan pada gaya Kansai lebih banyak
  4. Gaya Kanto tidak menghadirkan perantara
Jawaban: A. Pada gaya Kanto, perantara (nakodo) berpindah bolak-balik satu setengah kali antara kedua keluarga, sedangkan pada gaya Kansai hanya berpindah satu kali

Barang seserahan yuino gaya Kanto berjumlah 9 jenis, dengan perantara berpindah satu setengah kali dari rumah pihak pria → rumah pihak wanita → rumah pihak pria → rumah pihak wanita. Sementara itu, pada gaya Kansai, perantara hanya berpindah satu kali dan jumlah barangnya 5–9 jenis. Saat ini, "yuino sederhana" tanpa menghadirkan perantara menjadi arus utama (76,2%).

Soal 11 | Perbedaan Otsuya dan Kokubetsushiki

Apa perbedaan asli antara "Otsuya" (malam berjaga) dan "Kokubetsushiki" (upacara pemakaman)?

  1. Otsuya adalah upacara yang berpusat pada kerabat dekat untuk "menjaga sepanjang malam" arwah mendiang, sedangkan Kokubetsushiki adalah "upacara mengucapkan perpisahan" yang bisa dihadiri siapa saja
  2. Keduanya adalah upacara dengan isi yang sama, hanya beda sebutan saja
  3. Kokubetsushiki lebih ditujukan untuk kerabat dekat
  4. Otsuya adalah istilah yang hanya berlaku dalam upacara aliran Buddha
Jawaban: A. Otsuya adalah upacara yang berpusat pada kerabat dekat untuk "menjaga sepanjang malam" arwah mendiang, sedangkan Kokubetsushiki adalah "upacara mengucapkan perpisahan" yang bisa dihadiri siapa saja

Otsuya pada dasarnya adalah upacara di mana kerabat dekat "menjaga sepanjang malam" arwah mendiang, sedangkan Kokubetsushiki adalah "upacara mengucapkan perpisahan" yang bisa dihadiri siapa saja. Otsuya di zaman sekarang umumnya berupa "han-tsuya" (setengah malam berjaga) yang berlangsung sekitar 1–2 jam mulai sore hari.

Soal 12 | Cara Menghitung Peringatan Tahunan

Sankaiki (peringatan tahun ke-3) dilaksanakan pada tepat berapa tahun setelah kematian?

  1. Tepat 2 tahun (dihitung dengan rumus angka peringatan dikurangi 1 tahun; hanya isshuuki yang menjadi pengecualian)
  2. Tepat 3 tahun
  3. Tepat 1 tahun
  4. Tepat 6 tahun
Jawaban: A. Tepat 2 tahun (dihitung dengan rumus angka peringatan dikurangi 1 tahun; hanya isshuuki yang menjadi pengecualian)

Aturan dasar upacara peringatan tahunan (nenki hoyo) adalah dilaksanakan pada "angka peringatan dikurangi 1 tahun" (hanya isshuuki/peringatan tahun ke-1 yang menjadi pengecualian, yaitu tepat 1 tahun). Sankaiki (tahun ke-3) jatuh pada tepat 2 tahun, nanakaiki (tahun ke-7) pada tepat 6 tahun, dan jusankaiki (tahun ke-13) pada tepat 12 tahun. Ini adalah poin yang sering keliru dalam penghitungannya.

Soal 13 | Toiage

Dalam agama Buddha, kebiasaan seperti apa yang disebut "toiage"?

  1. Kebiasaan mengakhiri upacara peringatan pada peringatan tahun ke-33, dengan anggapan mendiang telah "bergabung dengan jajaran leluhur"
  2. Kebiasaan mengakhiri upacara peringatan pada hari ke-7
  3. Kebiasaan yang selalu mengakhiri upacara peringatan pada peringatan tahun ke-1
  4. Pandangan bahwa upacara peringatan tidak pernah berakhir
Jawaban: A. Kebiasaan mengakhiri upacara peringatan pada peringatan tahun ke-33, dengan anggapan mendiang telah "bergabung dengan jajaran leluhur"

Ada kebiasaan bernama "toiage", yaitu pada peringatan tahun ke-33 dianggap mendiang telah "bergabung dengan jajaran leluhur", dan sebagai momentum itu, upacara peringatan perorangan pun diakhiri.

Soal 14 | Istilah dalam Upacara Pemakaman Shinto

Dalam upacara pemakaman Shinto (shinsosai), tata cara apa yang setara dengan "shoko" (pembakaran dupa) dalam aliran Buddha?

  1. Tamagushi hoten (persembahan ranting suci)
  2. Sange (penaburan bunga)
  3. Hanya kenka (persembahan bunga)
  4. Istilah "shoko" tetap digunakan sama dalam aliran Shinto
Jawaban: A. Tamagushi hoten (persembahan ranting suci)

Dalam aliran Shinto, tata cara yang setara dengan "shoko" dalam aliran Buddha adalah "tamagushi hoten", "ihai" (papan arwah) setara dengan "reiji", dan "shijukunichi" (peringatan hari ke-49) setara dengan "gojukkusai" (upacara hari ke-50). Sangat membantu untuk memahami bahwa istilah-istilah ini berubah sesuai padanannya menurut agama.

Soal 15 | Tata Cara Tamagushi Hoten dalam Aliran Shinto

Apa tata cara yang benar untuk tamagushi hoten dalam upacara pemakaman Shinto?

  1. Membungkuk 2 kali, lalu bertepuk tangan 2 kali tanpa mengeluarkan suara (shinobite), baru kemudian mempersembahkan ranting suci
  2. Bertepuk tangan (kashiwade) 2 kali dengan suara keras
  3. Hanya membungkuk sekali tanpa bertepuk tangan
  4. Hanya membungkuk dalam-dalam sebanyak 3 kali
Jawaban: A. Membungkuk 2 kali, lalu bertepuk tangan 2 kali tanpa mengeluarkan suara (shinobite), baru kemudian mempersembahkan ranting suci

Dalam tamagushi hoten, setelah membungkuk 2 kali, dilakukan "shinobite" yaitu bertepuk tangan 2 kali tanpa mengeluarkan suara, baru kemudian mempersembahkan ranting suci. Ini adalah tata cara khas upacara duka yang berbeda dari "nihai nihakushu ippai" (2 kali membungkuk, 2 kali tepuk tangan, 1 kali membungkuk) saat berkunjung ke kuil Shinto.

Soal 16 | Perbedaan Agama dalam Ucapan Belasungkawa

Bagaimana jika ungkapan "Semoga arwahnya beristirahat dengan tenang" (go-meifuku o oinorishimasu) digunakan dalam upacara pemakaman Shinto atau Kristen?

  1. Karena berasal dari istilah Buddha, sebaiknya dihindari dalam upacara Shinto maupun Kristen
  2. Ungkapan serbaguna yang bisa digunakan tanpa masalah di semua agama
  3. Bukan hanya khusus aliran Buddha, tetapi juga ungkapan standar dalam aliran Shinto
  4. Istilah khusus yang hanya digunakan dalam upacara Kristen
Jawaban: A. Karena berasal dari istilah Buddha, sebaiknya dihindari dalam upacara Shinto maupun Kristen

Kata-kata yang berasal dari istilah Buddha seperti "meifuku" (kebahagiaan di alam baka) dan "jobutsu" (menjadi Buddha) sebaiknya dihindari dalam upacara Shinto maupun Kristen, dan dianggap lebih baik diganti dengan ungkapan seperti "semoga tenang" atau "semoga damai".

Tata Krama Makan

Soal 17 | Pantangan Sumpit: Watashibashi

Apa yang dimaksud dengan "watashibashi"?

  1. Meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk/piring (dianggap sebagai isyarat "sudah tidak butuh lagi")
  2. Menusukkan sumpit ke dalam makanan
  3. Bimbang memilih makanan mana yang akan dimakan dengan sumpit
  4. Menjilat makanan yang menempel pada sumpit
Jawaban: A. Meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk/piring (dianggap sebagai isyarat "sudah tidak butuh lagi")

Watashibashi adalah tindakan meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk/piring, dianggap sebagai isyarat "sudah tidak butuh lagi/sudah selesai makan", dan melakukannya di tengah makan dianggap melanggar tata krama.

Soal 18 | Pantangan Sumpit: Sashibashi dan Mayoibashi

Kombinasi yang benar untuk "sashibashi" dan "mayoibashi" adalah?

  1. Sashibashi = menusuk makanan dengan sumpit untuk memakannya, mayoibashi = menggerak-gerakkan sumpit di atas makanan karena bimbang memilih
  2. Sashibashi = meletakkan sumpit, mayoibashi = meneteskan kuah dengan sumpit
  3. Sashibashi = menjilat sumpit, mayoibashi = menarik mangkuk dengan sumpit
  4. Keduanya menunjuk pada tindakan yang sama
Jawaban: A. Sashibashi = menusuk makanan dengan sumpit untuk memakannya, mayoibashi = menggerak-gerakkan sumpit di atas makanan karena bimbang memilih

Sashibashi adalah tindakan menusuk makanan dengan sumpit untuk memakannya (terlihat seperti sedang memastikan apakah sudah matang, dan dianggap tidak sopan), sedangkan mayoibashi adalah menggerak-gerakkan sumpit di atas makanan karena bimbang memilih apa yang akan dimakan. Keduanya adalah cara penggunaan sumpit yang sebaiknya dihindari.

Soal 19 | Berbagai Pantangan Sumpit

Apa kesamaan dari "nebiribashi", "yosebashi", dan "namidabashi"?

  1. Semuanya dianggap sebagai perilaku pantangan penggunaan sumpit yang harus dihindari
  2. Di zaman sekarang, semuanya sudah dianggap sebagai tata krama yang bisa diterima
  3. Perilaku yang justru dianjurkan di beberapa daerah
  4. Tata krama yang hanya berlaku pada masakan Barat
Jawaban: A. Semuanya dianggap sebagai perilaku pantangan penggunaan sumpit yang harus dihindari

Nebiribashi (menjilat makanan yang menempel pada sumpit), yosebashi (menarik mangkuk/piring dengan sumpit), dan namidabashi (meneteskan kuah dari ujung sumpit) ketiganya dianggap sebagai pantangan dalam penggunaan sumpit pada masakan Jepang.

Soal 20 | Cara Memperlakukan Wadah Masakan Jepang

Apa tata cara yang benar saat makan dari wadah seukuran telapak tangan dalam masakan Jepang?

  1. Mengangkat wadah untuk makan ("okizui", yaitu makan sambil wadah tetap diletakkan, dianggap melanggar tata krama)
  2. Wadah harus selalu tetap diletakkan saat makan
  3. Mengangkat wadah hanyalah hak istimewa orang yang lebih senior
  4. Tata krama tetap sama tanpa memandang ukuran wadah
Jawaban: A. Mengangkat wadah untuk makan ("okizui", yaitu makan sambil wadah tetap diletakkan, dianggap melanggar tata krama)

Dalam masakan Jepang, wadah seukuran telapak tangan dianggap sebagai tata cara yang benar untuk diangkat saat makan, dan makan sambil wadah tetap diletakkan ("okizui") dianggap melanggar tata krama.

Soal 21 | Cara Membuka Tutup Mangkuk Sup

Apa tata cara yang benar saat membuka tutup mangkuk sup?

  1. Membukanya perlahan sambil pergelangan tangan menggambar huruf "no"
  2. Membukanya sekaligus dengan cepat
  3. Meminum lewat celah tanpa membuka tutup
  4. Mengangkatnya lurus ke atas dengan kedua tangan
Jawaban: A. Membukanya perlahan sambil pergelangan tangan menggambar huruf "no"

Tata cara membuka tutup mangkuk sup adalah membukanya perlahan sambil pergelangan tangan menggambar huruf "no" (の). Membukanya dengan cepat dan penuh tenaga dianggap melanggar tata krama.

Soal 22 | Perbedaan Kaiseki Ryori dan Kaiseki Ryori (Cha Kaiseki dan Shuen Kaiseki)

Apa perbedaan urutan penyajian antara "kaiseki ryori" (cha-kaiseki) dan "kaiseki ryori" (shuen-kaiseki)?

  1. Cha-kaiseki menyajikan sup dan nasi terlebih dahulu, sedangkan shuen-kaiseki menyajikan nasi paling akhir (urutannya terbalik)
  2. Keduanya disajikan dengan urutan yang sama
  3. Baik cha-kaiseki maupun shuen-kaiseki sama-sama menyajikan nasi terlebih dahulu
  4. Hanya beda sebutan saja, isinya sama
Jawaban: A. Cha-kaiseki menyajikan sup dan nasi terlebih dahulu, sedangkan shuen-kaiseki menyajikan nasi paling akhir (urutannya terbalik)

Cha-kaiseki adalah masakan yang disajikan dalam upacara minum teh, dengan ciri khas menyajikan sup dan nasi terlebih dahulu. Sementara itu, shuen-kaiseki adalah masakan yang disajikan dalam jamuan minum sake, dengan nasi disajikan paling akhir. Meski terdengar mirip, keduanya memiliki perbedaan urutan yang justru terbalik.

Soal 23 | Isyarat Pisau dan Garpu pada Masakan Barat

Meletakkan pisau dan garpu membentuk huruf "V" (ハ) di atas piring di tengah makan merupakan isyarat apa?

  1. Isyarat bahwa masih akan melanjutkan makan
  2. Isyarat bahwa sudah selesai makan
  3. Isyarat ingin menambah porsi
  4. Isyarat meminta untuk dihitung tagihannya
Jawaban: A. Isyarat bahwa masih akan melanjutkan makan

Meletakkan pisau dan garpu membentuk huruf "V" di atas piring adalah isyarat "masih akan melanjutkan makan". Jika diletakkan sejajar di sisi kanan bawah piring (posisi jam 4), itu menjadi isyarat "sudah selesai makan", dan berfungsi sebagai bentuk komunikasi kepada staf restoran.

Soal 24 | Cara Menggunakan Piring di Pesta Berdiri

Di pesta berdiri (buffet), apa tata krama yang benar saat menambah makanan?

  1. Mengganti dengan piring baru (menumpuk makanan di piring yang sama atau memakai ulang piring adalah hal yang tidak boleh dilakukan)
  2. Menumpuk makanan berturut-turut di piring yang sama
  3. Menyiapkan banyak piring sekaligus dari awal
  4. Mengambil makanan langsung dengan tangan tanpa piring
Jawaban: A. Mengganti dengan piring baru (menumpuk makanan di piring yang sama atau memakai ulang piring adalah hal yang tidak boleh dilakukan)

Di pesta berdiri, tata kramanya adalah menggunakan hanya 1 piring pada satu waktu, dan mengganti dengan piring baru saat menambah makanan. Piring dipegang dengan tangan kiri bersama gelas, sehingga tangan kanan bebas agar bisa segera bertukar kartu nama atau berjabat tangan.

Tata Krama Tempat Tinggal

Soal 25 | Alasan Tidak Boleh Menginjak Tepi Tatami (Bagian 1)

Apa salah satu alasan mengapa tepi tatami (heri) tidak boleh diinjak?

  1. Karena tepi tatami dahulu pernah dihiasi lambang keluarga (kamon), sehingga "menginjak tepi = menginjak lambang keluarga" dianggap tidak sopan
  2. Karena menginjak tepi membuat tatami melengkung
  3. Hanya alasan praktis karena warna tepi mudah pudar
  4. Karena ditetapkan dalam ajaran agama Buddha
Jawaban: A. Karena tepi tatami dahulu pernah dihiasi lambang keluarga (kamon), sehingga "menginjak tepi = menginjak lambang keluarga" dianggap tidak sopan

Salah satu alasannya adalah tepi tatami dahulu pernah dihiasi lambang keluarga (kamon), sehingga "menginjak tepi = menginjak lambang keluarga" dianggap tidak sopan.

Soal 26 | Alasan Tidak Boleh Menginjak Tepi Tatami (Bagian 2)

Ada juga teori keamanan mengenai alasan tidak boleh menginjak tepi tatami. Apa isinya?

  1. Pada masa Perang Negara-Negara Sengaja hingga zaman Edo, ada bahaya pembunuh menusukkan pedang atau tombak dari bawah tatami atau celah tepinya
  2. Karena menginjak tepi membuat lantai di bawah tatami mudah bolong
  3. Karena ada kebiasaan menyembunyikan koin emas di posisi tepi
  4. Karena menginjak tepi dipercaya menjadi penyebab kebakaran
Jawaban: A. Pada masa Perang Negara-Negara Sengaja hingga zaman Edo, ada bahaya pembunuh menusukkan pedang atau tombak dari bawah tatami atau celah tepinya

Ada teori bahwa pada masa Perang Negara-Negara Sengaja hingga zaman Edo, terdapat bahaya pembunuh menusukkan pedang atau tombak dari bawah tatami atau celah tepinya, sehingga kebiasaan menghindari tepi tatami mengakar sebagai cara melindungi diri.

Soal 27 | Cara Duduk di Bantal Zabuton

Ketika dipersilakan duduk di bantal zabuton, apa tata cara yang benar?

  1. Tidak boleh duduk atas inisiatif sendiri sebelum dipersilakan. Setelah dipersilakan, mendekat dari samping sambil merangkak sedikit demi sedikit lalu duduk
  2. Boleh langsung duduk dari atas begitu zabuton disediakan
  3. Cara resminya adalah menginjak zabuton terlebih dahulu sebelum duduk
  4. Tata krama yang rendah hati adalah tidak duduk di zabuton, melainkan meletakkannya di samping
Jawaban: A. Tidak boleh duduk atas inisiatif sendiri sebelum dipersilakan. Setelah dipersilakan, mendekat dari samping sambil merangkak sedikit demi sedikit lalu duduk

Tidak boleh duduk di zabuton atas inisiatif sendiri sebelum dipersilakan. Jika duduk lebih dulu, itu dianggap sebagai isyarat "menganggap diri sendiri lebih tinggi kedudukannya" dan dianggap tidak sopan. Setelah dipersilakan, tata cara resminya adalah mendekat dari samping sambil merangkak sedikit demi sedikit, menopang tubuh dengan kepalan tangan di atas zabuton, lalu mengangkat tubuh untuk duduk.

Soal 28 | Tata Cara Menyajikan Zabuton

Ketika menyajikan zabuton kepada tamu, apa gerakan yang benar?

  1. Membawanya dalam keadaan dilipat dua dengan lipatan menghadap ke arah pembawa, lalu membukanya di depan tamu
  2. Membukanya terlebih dahulu dan meletakkannya di sudut ruangan
  3. Menyerahkannya dalam keadaan terlipat agar tamu membukanya sendiri
  4. Meletakkannya sembarangan tanpa memedulikan sisi depan-belakang
Jawaban: A. Membawanya dalam keadaan dilipat dua dengan lipatan menghadap ke arah pembawa, lalu membukanya di depan tamu

Zabuton dibawa dalam keadaan dilipat dua dengan lipatan menghadap ke arah pembawa, lalu dibuka di depan tamu. Ini dianggap sebagai gerakan tradisional untuk menunjukkan bahwa "tidak ada yang disembunyikan" (bersih dan aman).

Soal 29 | Alasan Tokonoma Dianggap Tempat Duduk Terhormat

Mengapa area depan tokonoma (relung dekoratif) di ruangan tatami dianggap sebagai "tempat duduk terhormat" (kamiza)?

  1. Berasal dari sistem status zaman Muromachi, sisa dari kebiasaan mendudukkan orang berstatus tinggi di "jodan no ma" (ruangan dengan lantai lebih tinggi satu tingkat)
  2. Karena di tokonoma selalu disemayamkan rak dewa (kamidana)
  3. Karena tokonoma berada dekat dengan peralatan pemanas ruangan
  4. Hanya karena posisinya jauh dari pintu masuk ruangan
Jawaban: A. Berasal dari sistem status zaman Muromachi, sisa dari kebiasaan mendudukkan orang berstatus tinggi di "jodan no ma" (ruangan dengan lantai lebih tinggi satu tingkat)

Tokonoma dianggap sebagai tempat duduk terhormat karena berasal dari sistem status zaman Muromachi, di mana orang berstatus tinggi (tuan/penguasa) didudukkan di "jodan no ma", ruangan dengan lantai yang lebih tinggi satu tingkat, dan kebiasaan ini disederhanakan hingga membentuk tradisi tersebut. Setelah era Sen no Rikyu, tokonoma juga berkembang sebagai ruang spiritual untuk mengekspresikan musim.

Soal 30 | Tata Cara Melepas Sepatu

Apa tata cara yang benar saat melepas sepatu di pintu masuk (genkan)?

  1. Melepas sepatu tanpa membelakangi tuan rumah, tetap menghadap ke arah depan tanpa berbalik
  2. Berbalik membelakangi dan melepas sepatu dengan cepat dianggap gaya yang cerdas
  3. Setelah melepas sepatu, segera berbalik untuk merapikannya
  4. Tidak ada tata krama khusus, boleh dengan cara yang mudah saja
Jawaban: A. Melepas sepatu tanpa membelakangi tuan rumah, tetap menghadap ke arah depan tanpa berbalik

Di pintu masuk, tata cara resminya adalah melepas sepatu tanpa membelakangi tuan rumah, dengan tetap menghadap ke arah depan tanpa berbalik.

Soal 31 | Cara Merapikan Sepatu

Bagaimana arah dan posisi yang benar saat merapikan sepatu yang dilepas?

  1. Merapikan dengan ujung sepatu menghadap ke luar (ke arah pintu genkan), diletakkan di sisi shimoza (posisi lebih rendah) dari genkan
  2. Merapikan di tengah dengan ujung sepatu menghadap ke dalam rumah
  3. Tidak perlu memedulikan arah, cukup dirapikan saja
  4. Dirapikan lurus di sisi kamiza (posisi lebih tinggi)
Jawaban: A. Merapikan dengan ujung sepatu menghadap ke luar (ke arah pintu genkan), diletakkan di sisi shimoza (posisi lebih rendah) dari genkan

Sepatu yang dilepas dirapikan dengan ujung menghadap ke luar (ke arah pintu genkan). Ini berasal dari tata krama ruang teh agar bisa segera dipakai saat keadaan darurat, dan posisi merapikannya bukan di tengah genkan, melainkan di sisi "shimoza" yang dianggap resmi.

Soal 32 | Cara Membuka Fusuma

Apa tata cara resmi yang benar saat membuka fusuma (pintu geser)?

  1. Membukanya sekitar 5 cm terlebih dahulu dengan pegangan tangan, kemudian membukanya tanpa suara sambil tangan menyusuri rangka (oyabone)
  2. Membuka sekaligus hingga terbuka penuh dianggap lebih sopan
  3. Tidak boleh menyapa sama sekali saat membuka
  4. Tata kramanya adalah mendorongnya sedikit dengan kaki untuk membuka
Jawaban: A. Membukanya sekitar 5 cm terlebih dahulu dengan pegangan tangan, kemudian membukanya tanpa suara sambil tangan menyusuri rangka (oyabone)

Fusuma memiliki tata cara bertahap: duduk bersimpuh (seiza) sekitar dua kepalan tangan dari tengah, menyapa dengan "permisi", lalu membukanya sekitar 5 cm terlebih dahulu dengan pegangan tangan, kemudian membukanya tanpa suara hingga ke tengah sambil tangan menyusuri rangka (oyabone). Dengan sengaja menyisakan sekitar 5 cm saat membuka penuh dianggap sebagai perhatian untuk meninggalkan titik pegangan saat akan menutupnya kembali.

Tata Krama Menjamu Tamu

Soal 33 | Sudut dan Jenis Membungkuk (Ojigi)

Apa kombinasi yang benar untuk penggunaan sudut membungkuk (ojigi) yang berbeda-beda?

  1. Eshaku (15 derajat) untuk salam berpapasan, keirei (30 derajat) untuk pertemuan pertama atau mengantar kepergian, saikeirei (45–90 derajat) untuk permintaan maaf atau ucapan terima kasih yang mendalam
  2. Eshaku (45 derajat) untuk berpapasan, saikeirei (15 derajat) untuk permintaan maaf
  3. Tidak ada perbedaan penggunaan berdasarkan sudut
  4. Menyatukan semuanya dengan sudut yang sama dianggap resmi
Jawaban: A. Eshaku (15 derajat) untuk salam berpapasan, keirei (30 derajat) untuk pertemuan pertama atau mengantar kepergian, saikeirei (45–90 derajat) untuk permintaan maaf atau ucapan terima kasih yang mendalam

Aturan dasarnya adalah membedakan penggunaan: eshaku (15 derajat) untuk salam berpapasan, keirei (30 derajat) untuk pertemuan pertama atau mengantar kepergian, dan saikeirei (45–90 derajat) untuk situasi permintaan maaf atau ucapan terima kasih yang mendalam.

Soal 34 | Dasar Pertukaran Kartu Nama

Dalam pertukaran kartu nama dengan banyak orang, siapa yang secara dasar menyodorkan kartu nama terlebih dahulu?

  1. Orang dengan posisi lebih rendah (pihak yang berkunjung) terlebih dahulu, dan jika ada banyak orang, dimulai dari yang jabatannya lebih tinggi
  2. Orang dengan jabatan lebih tinggi menyodorkan terlebih dahulu
  3. Orang yang lebih muda usianya menyodorkan terlebih dahulu
  4. Tidak ada aturan urutan khusus
Jawaban: A. Orang dengan posisi lebih rendah (pihak yang berkunjung) terlebih dahulu, dan jika ada banyak orang, dimulai dari yang jabatannya lebih tinggi

Dasar pertukaran kartu nama adalah orang dengan posisi lebih rendah (pihak yang berkunjung) menyodorkan terlebih dahulu. Jika ada banyak orang, pertukaran dilakukan berurutan mulai dari yang jabatannya lebih tinggi.

Soal 35 | Cara Memegang Kartu Nama

Apa cara memegang yang benar saat menyerahkan kartu nama?

  1. Memegang dengan kedua tangan, menyodorkannya setinggi dada ke arah tempat kartu nama (meishi-ire) milik lawan bicara
  2. Menyerahkannya dengan cepat menggunakan satu tangan dianggap gaya yang cerdas
  3. Mengeluarkannya langsung dari kantong tanpa menggunakan tempat kartu nama
  4. Tidak masalah jika jari menutupi tulisan
Jawaban: A. Memegang dengan kedua tangan, menyodorkannya setinggi dada ke arah tempat kartu nama (meishi-ire) milik lawan bicara

Dasarnya adalah memegang kartu nama dengan kedua tangan dan menyodorkannya setinggi dada ke arah tempat kartu nama milik lawan bicara. Tempat kartu nama dianggap berperan sebagai "bantal zabuton untuk meletakkan kartu nama lawan bicara", dan poin pentingnya adalah memegangnya sedemikian rupa agar jari tidak menutupi tulisan.

Soal 36 | Cara Meletakkan Kartu Nama yang Diterima

Dalam pertemuan bisnis, setelah duduk, di mana biasanya kartu nama yang diterima diletakkan sebagai tata krama dasar?

  1. Diletakkan di sisi kiri dari sudut pandang diri sendiri (jika banyak orang, disusun sesuai urutan tempat duduk)
  2. Segera dimasukkan ke kantong atau tas
  3. Ditumpuk di atas tempat kartu nama milik sendiri
  4. Dibalik agar tidak terlihat oleh lawan bicara
Jawaban: A. Diletakkan di sisi kiri dari sudut pandang diri sendiri (jika banyak orang, disusun sesuai urutan tempat duduk)

Tata krama dasarnya adalah meletakkan kartu nama yang diterima di sisi kiri dari sudut pandang diri sendiri. Jika ada banyak orang, kartu nama disusun sesuai urutan tempat duduk sehingga memudahkan untuk mengetahui siapa yang mana.

Soal 37 | Cara Menyerahkan Oleh-Oleh (Perlakuan Terhadap Tas)

Saat menyerahkan oleh-oleh (temiyage), bagaimana perlakuan resmi terhadap tas kertas atau kain pembungkus (furoshiki)?

  1. Mengeluarkan isinya terlebih dahulu sebelum menyerahkannya (tas berperan sebagai "pelindung debu")
  2. Menyerahkannya dalam keadaan masih di dalam tas
  3. Tidak menyerahkan tasnya, hanya membawa isinya saja
  4. Membiarkan lawan bicara membawa pulang tasnya sekalian
Jawaban: A. Mengeluarkan isinya terlebih dahulu sebelum menyerahkannya (tas berperan sebagai "pelindung debu")

Karena tas kertas atau furoshiki berperan sebagai "pelindung debu", tata krama resminya adalah selalu mengeluarkan isinya terlebih dahulu sebelum menyerahkan. Furoshiki pada dasarnya dibawa pulang oleh orang yang membawanya, sehingga perlakuannya berbeda dari tas kertas.

Soal 38 | Arah Saat Menyerahkan Barang

Apa tata cara resmi yang diperkenalkan untuk menyerahkan suatu barang?

  1. Meletakkannya terlebih dahulu dengan bagian depan menghadap diri sendiri, lalu memutarnya 180 derajat searah jarum jam sehingga bagian depan menghadap lawan bicara saat menyodorkannya
  2. Meletakkannya sejak awal dengan bagian depan menghadap lawan bicara
  3. Menyerahkannya dalam keadaan terbalik dianggap sebagai wujud kerendahan hati
  4. Arah tidak perlu terlalu diperhatikan
Jawaban: A. Meletakkannya terlebih dahulu dengan bagian depan menghadap diri sendiri, lalu memutarnya 180 derajat searah jarum jam sehingga bagian depan menghadap lawan bicara saat menyodorkannya

Saat menyerahkan barang, diperkenalkan tata cara yang sopan: meletakkannya terlebih dahulu dengan bagian depan menghadap diri sendiri, lalu memutarnya 90 derajat sebanyak 2 kali (total 180 derajat) searah jarum jam sehingga bagian depan menghadap lawan bicara saat menyodorkannya.

Soal 39 | Waktu Menyerahkan Oleh-Oleh

Kapan waktu umum untuk menyerahkan oleh-oleh (temiyage) saat berkunjung ke rumah seseorang?

  1. Setelah dipersilakan masuk ke ruangan dan salam resmi selesai dilakukan
  2. Diserahkan lebih dulu tepat di pintu masuk
  3. Diserahkan saat akan pulang
  4. Tidak ada aturan mengenai waktu penyerahannya
Jawaban: A. Setelah dipersilakan masuk ke ruangan dan salam resmi selesai dilakukan

Saat berkunjung ke rumah seseorang, dasarnya adalah menyerahkan oleh-oleh setelah dipersilakan masuk ke ruangan dan salam resmi selesai dilakukan (dalam situasi bisnis, dilakukan setelah pertukaran kartu nama). Namun, ada juga pengecualian seperti barang segar yang lebih tepat diserahkan di pintu masuk, sehingga penilaian yang fleksibel juga diperlukan.

Latihan: kerjakan soal di halaman ini

Ini adalah alat latihan dengan soal acak (berfungsi jika JavaScript aktif). Semua soal dan penjelasan di atas tetap dapat dibaca tanpa alat ini.

* Penjelasan ini merupakan informasi umum, bukan konsultasi hukum perorangan maupun saran medis atau keselamatan. Peraturan dan sistem dapat berubah, jadi harap periksa informasi resmi terbaru.

Halaman ini adalah terjemahan dari teks asli berbahasa Jepang. Jika terdapat perbedaan antara terjemahan dan teks asli, versi bahasa Jepang yang berlaku. Lihat teks asli bahasa Jepang