Pindahan, upacara, makan, tempat tinggal, dan tata krama internasional
Prosedur resmi saat pindahan, membalas undangan, pantangan dalam menggunakan sumpit, alasan tidak menginjak tepi tatami, dan bertukar kartu nama. Kami merangkum per situasi tata krama yang terasa sudah diketahui tetapi sulit dijelaskan. Karena dijelaskan juga “mengapa dilakukan begitu”, Anda dapat menggunakannya saat menyampaikannya kepada orang dari luar negeri.
39 soal · 5 bidang | Terakhir diperbarui 2026-09-28
Berapa batas waktu untuk menyerahkan "Laporan Pindah Masuk" (tennyu todoke) ke pemerintah kota/distrik tujuan pindah?
Dalam 14 hari sejak tanggal pindah
Dalam 1 bulan
Dalam 3 bulan
Tidak ada batas waktu
Jawaban: A. Dalam 14 hari sejak tanggal pindah
Laporan pindah masuk wajib diserahkan dalam 14 hari sejak tanggal pindah. Jika terlambat tanpa alasan yang sah, dapat dikenai denda administratif hingga 50.000 yen berdasarkan Undang-Undang Buku Induk Kependudukan.
Soal 2 | Waktu Laporan Pindah Keluar
Kapan waktu yang tepat untuk menyerahkan "Laporan Pindah Keluar" (tenshutsu todoke)?
Mulai 14 hari sebelum tanggal pindah yang direncanakan hingga hari-H
Dalam 14 hari setelah pindah
Hingga 1 bulan sebelum pindah
Kapan saja boleh
Jawaban: A. Mulai 14 hari sebelum tanggal pindah yang direncanakan hingga hari-H
Berbeda dengan laporan pindah masuk, waktu penyerahan laporan pindah keluar justru sebaliknya: diserahkan ke pemerintah kota/distrik alamat lama mulai 14 hari sebelum tanggal pindah yang direncanakan hingga hari-H.
Soal 3 | Risiko Kadaluarsa Kartu My Number
Jika laporan pindah masuk tidak dilakukan tepat waktu, apa dampaknya terhadap kartu My Number?
Bisa menjadi tidak berlaku (kadaluarsa), dan prosedur perpanjangan penggunaan sertifikat elektronik juga harus dilakukan dalam 90 hari setelah pindah masuk
Tidak ada dampak khusus
Biaya penerbitan ulang menjadi setengah harga
Langsung dihentikan penggunaannya seketika
Jawaban: A. Bisa menjadi tidak berlaku (kadaluarsa), dan prosedur perpanjangan penggunaan sertifikat elektronik juga harus dilakukan dalam 90 hari setelah pindah masuk
Jika laporan pindah masuk tidak dilakukan dalam 14 hari, kartu My Number berisiko menjadi tidak berlaku. Selain itu, setelah laporan pindah masuk, prosedur perpanjangan penggunaan sertifikat elektronik juga harus dilakukan dalam 90 hari dan jangan sampai terlupa.
Soal 4 | Perubahan Alamat pada SIM
Setelah pindah rumah, bagaimana seharusnya perubahan alamat pada SIM (surat izin mengemudi) dilakukan?
Ada kewajiban hukum untuk segera melakukannya, dan jika diabaikan bisa menjadi pelanggaran Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Raya
Bukan kewajiban, melainkan opsional
Cukup diubah sekaligus saat masa perpanjangan SIM
Perubahan alamat tidak diperlukan
Jawaban: A. Ada kewajiban hukum untuk segera melakukannya, dan jika diabaikan bisa menjadi pelanggaran Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Raya
Perubahan alamat pada SIM merupakan kewajiban hukum yang harus "segera" dilakukan, dan jika diabaikan dapat dikenai sanksi sebagai pelanggaran Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Raya. Prosedurnya dilakukan di kantor polisi atau pusat SIM di alamat baru, dengan membawa dokumen identitas seperti kartu keterangan domisili (juminhyo) atau kartu My Number.
Soal 5 | Layanan Penerusan Surat Pos
Jika mengajukan "Laporan Pindah Alamat" (layanan penerusan surat) ke kantor pos, apa yang terjadi dengan surat yang dikirim ke alamat lama?
Selama 1 tahun sejak tanggal pengajuan, surat akan diteruskan gratis ke alamat baru
Diteruskan terus tanpa batas waktu
Diteruskan berbayar hanya selama 3 bulan
Jangka waktu layanan penerusan bisa dipersingkat sesuka hati
Jawaban: A. Selama 1 tahun sejak tanggal pengajuan, surat akan diteruskan gratis ke alamat baru
Jika mengajukan laporan pindah alamat ke kantor pos, surat yang ditujukan ke alamat lama akan diteruskan gratis ke alamat baru selama 1 tahun sejak tanggal pengajuan (jangka waktunya tidak bisa dipersingkat). Setelah pengajuan, dibutuhkan sekitar 3–7 hari hingga penerusan dimulai.
Soal 6 | Ketentuan Khusus Tunjangan Anak Saat Pindah
Ketika pindah antar-pemerintah daerah, apa syarat agar penerimaan tunjangan anak tetap berkelanjutan tanpa terputus?
Jika mengajukan permohonan di daerah tujuan dalam 15 hari sejak hari berikutnya tanggal pindah keluar yang direncanakan, meski permohonan aktualnya mundur ke bulan berikutnya, tunjangan tetap dibayarkan secara surut
Otomatis berlanjut tanpa perlu melakukan apa pun
Jika mengajukan dalam 1 bulan, kapan pun akan diperlakukan sama
Sebagai aturan umum, tunjangan anak dihentikan sementara setelah pindah
Jawaban: A. Jika mengajukan permohonan di daerah tujuan dalam 15 hari sejak hari berikutnya tanggal pindah keluar yang direncanakan, meski permohonan aktualnya mundur ke bulan berikutnya, tunjangan tetap dibayarkan secara surut
Tunjangan anak pada dasarnya dibayarkan mulai "bulan berikutnya dari bulan pengajuan", tetapi ada ketentuan khusus: jika mengajukan permohonan di daerah tujuan dalam 15 hari sejak hari berikutnya tanggal pindah keluar yang direncanakan, meski permohonan aktualnya mundur ke bulan berikutnya, tunjangan tetap dibayarkan secara surut (retroaktif).
Soal 7 | Batas Waktu Prosedur Asuransi Kesehatan Nasional
Berapa batas waktu laporan perubahan (pindah masuk/pindah alamat) untuk Asuransi Kesehatan Nasional (Kokumin Kenko Hoken)?
Dalam 14 hari sejak tanggal pindah masuk/pindah alamat
Dalam 1 bulan
Dalam 3 bulan
Tidak ada batas waktu khusus
Jawaban: A. Dalam 14 hari sejak tanggal pindah masuk/pindah alamat
Asuransi Kesehatan Nasional memerlukan laporan dalam 14 hari sejak tanggal pindah masuk/pindah alamat. Prosedur seperti tunjangan anak dan tunjangan bantuan anak juga pada dasarnya sama-sama dalam 14 hari, jadi berguna untuk diingat bahwa prosedur pemerintahan setelah pindah rumah banyak yang mengikuti "aturan 14 hari".
Upacara Adat
Soal 8 | Tata Krama Membalas Undangan
Saat membalas undangan pernikahan dengan melingkari "Go-shusseki" (Hadir), apa tata krama yang benar?
Coret dua garis pada karakter "Go" (begitu pula "Go-ho" pada "Go-homei")
Biarkan karakter "Go" tetap apa adanya
Cukup melingkari seluruh kata "Go-shusseki"
Tidak boleh menambahkan coretan apa pun pada kartu pos balasan
Jawaban: A. Coret dua garis pada karakter "Go" (begitu pula "Go-ho" pada "Go-homei")
Dalam membalas undangan, dianggap sopan untuk mencoret karakter "Go" yang tercetak pada "Go-shusseki" (Hadir)/"Go-kesseki" (Tidak Hadir) serta karakter "Go-ho" pada "Go-homei" dengan dua garis (sebaiknya menggunakan penggaris) atau menggantinya dengan karakter "Kotobuki" (perayaan).
Soal 9 | Karakter "Gyo" pada Kartu Pos Balasan
Bagaimana cara memperbaiki karakter "Gyo" pada tulisan "○○ Gyo" di kartu pos balasan undangan?
Coret dengan dua garis, lalu tulis ulang menjadi "Sama"
Biarkan seperti apa adanya
Gambar bunga di atas karakter "Gyo"
Lingkari karakter "Gyo"
Jawaban: A. Coret dengan dua garis, lalu tulis ulang menjadi "Sama"
Tata kramanya adalah mencoret karakter "Gyo" pada "○○ Gyo" dengan dua garis, lalu menuliskannya kembali menjadi "Sama". Dianggap lebih sopan jika mencoretnya dengan rapi menggunakan penggaris, bukan dengan tangan bebas.
Soal 10 | Gaya Yuino Kanto dan Kansai
Apa perbedaan cara pelaksanaan yuino (upacara pertunangan resmi) antara "gaya Kanto" dan "gaya Kansai"?
Pada gaya Kanto, perantara (nakodo) berpindah bolak-balik satu setengah kali antara kedua keluarga, sedangkan pada gaya Kansai hanya berpindah satu kali
Tidak ada perbedaan makna antara gaya Kanto dan gaya Kansai
Umumnya jumlah barang seserahan pada gaya Kansai lebih banyak
Gaya Kanto tidak menghadirkan perantara
Jawaban: A. Pada gaya Kanto, perantara (nakodo) berpindah bolak-balik satu setengah kali antara kedua keluarga, sedangkan pada gaya Kansai hanya berpindah satu kali
Barang seserahan yuino gaya Kanto berjumlah 9 jenis, dengan perantara berpindah satu setengah kali dari rumah pihak pria → rumah pihak wanita → rumah pihak pria → rumah pihak wanita. Sementara itu, pada gaya Kansai, perantara hanya berpindah satu kali dan jumlah barangnya 5–9 jenis. Saat ini, "yuino sederhana" tanpa menghadirkan perantara menjadi arus utama (76,2%).
Soal 11 | Perbedaan Otsuya dan Kokubetsushiki
Apa perbedaan asli antara "Otsuya" (malam berjaga) dan "Kokubetsushiki" (upacara pemakaman)?
Otsuya adalah upacara yang berpusat pada kerabat dekat untuk "menjaga sepanjang malam" arwah mendiang, sedangkan Kokubetsushiki adalah "upacara mengucapkan perpisahan" yang bisa dihadiri siapa saja
Keduanya adalah upacara dengan isi yang sama, hanya beda sebutan saja
Kokubetsushiki lebih ditujukan untuk kerabat dekat
Otsuya adalah istilah yang hanya berlaku dalam upacara aliran Buddha
Jawaban: A. Otsuya adalah upacara yang berpusat pada kerabat dekat untuk "menjaga sepanjang malam" arwah mendiang, sedangkan Kokubetsushiki adalah "upacara mengucapkan perpisahan" yang bisa dihadiri siapa saja
Otsuya pada dasarnya adalah upacara di mana kerabat dekat "menjaga sepanjang malam" arwah mendiang, sedangkan Kokubetsushiki adalah "upacara mengucapkan perpisahan" yang bisa dihadiri siapa saja. Otsuya di zaman sekarang umumnya berupa "han-tsuya" (setengah malam berjaga) yang berlangsung sekitar 1–2 jam mulai sore hari.
Soal 12 | Cara Menghitung Peringatan Tahunan
Sankaiki (peringatan tahun ke-3) dilaksanakan pada tepat berapa tahun setelah kematian?
Tepat 2 tahun (dihitung dengan rumus angka peringatan dikurangi 1 tahun; hanya isshuuki yang menjadi pengecualian)
Tepat 3 tahun
Tepat 1 tahun
Tepat 6 tahun
Jawaban: A. Tepat 2 tahun (dihitung dengan rumus angka peringatan dikurangi 1 tahun; hanya isshuuki yang menjadi pengecualian)
Aturan dasar upacara peringatan tahunan (nenki hoyo) adalah dilaksanakan pada "angka peringatan dikurangi 1 tahun" (hanya isshuuki/peringatan tahun ke-1 yang menjadi pengecualian, yaitu tepat 1 tahun). Sankaiki (tahun ke-3) jatuh pada tepat 2 tahun, nanakaiki (tahun ke-7) pada tepat 6 tahun, dan jusankaiki (tahun ke-13) pada tepat 12 tahun. Ini adalah poin yang sering keliru dalam penghitungannya.
Soal 13 | Toiage
Dalam agama Buddha, kebiasaan seperti apa yang disebut "toiage"?
Kebiasaan mengakhiri upacara peringatan pada peringatan tahun ke-33, dengan anggapan mendiang telah "bergabung dengan jajaran leluhur"
Kebiasaan mengakhiri upacara peringatan pada hari ke-7
Kebiasaan yang selalu mengakhiri upacara peringatan pada peringatan tahun ke-1
Pandangan bahwa upacara peringatan tidak pernah berakhir
Jawaban: A. Kebiasaan mengakhiri upacara peringatan pada peringatan tahun ke-33, dengan anggapan mendiang telah "bergabung dengan jajaran leluhur"
Ada kebiasaan bernama "toiage", yaitu pada peringatan tahun ke-33 dianggap mendiang telah "bergabung dengan jajaran leluhur", dan sebagai momentum itu, upacara peringatan perorangan pun diakhiri.
Soal 14 | Istilah dalam Upacara Pemakaman Shinto
Dalam upacara pemakaman Shinto (shinsosai), tata cara apa yang setara dengan "shoko" (pembakaran dupa) dalam aliran Buddha?
Tamagushi hoten (persembahan ranting suci)
Sange (penaburan bunga)
Hanya kenka (persembahan bunga)
Istilah "shoko" tetap digunakan sama dalam aliran Shinto
Jawaban: A. Tamagushi hoten (persembahan ranting suci)
Dalam aliran Shinto, tata cara yang setara dengan "shoko" dalam aliran Buddha adalah "tamagushi hoten", "ihai" (papan arwah) setara dengan "reiji", dan "shijukunichi" (peringatan hari ke-49) setara dengan "gojukkusai" (upacara hari ke-50). Sangat membantu untuk memahami bahwa istilah-istilah ini berubah sesuai padanannya menurut agama.
Soal 15 | Tata Cara Tamagushi Hoten dalam Aliran Shinto
Apa tata cara yang benar untuk tamagushi hoten dalam upacara pemakaman Shinto?
Membungkuk 2 kali, lalu bertepuk tangan 2 kali tanpa mengeluarkan suara (shinobite), baru kemudian mempersembahkan ranting suci
Bertepuk tangan (kashiwade) 2 kali dengan suara keras
Hanya membungkuk sekali tanpa bertepuk tangan
Hanya membungkuk dalam-dalam sebanyak 3 kali
Jawaban: A. Membungkuk 2 kali, lalu bertepuk tangan 2 kali tanpa mengeluarkan suara (shinobite), baru kemudian mempersembahkan ranting suci
Dalam tamagushi hoten, setelah membungkuk 2 kali, dilakukan "shinobite" yaitu bertepuk tangan 2 kali tanpa mengeluarkan suara, baru kemudian mempersembahkan ranting suci. Ini adalah tata cara khas upacara duka yang berbeda dari "nihai nihakushu ippai" (2 kali membungkuk, 2 kali tepuk tangan, 1 kali membungkuk) saat berkunjung ke kuil Shinto.
Soal 16 | Perbedaan Agama dalam Ucapan Belasungkawa
Bagaimana jika ungkapan "Semoga arwahnya beristirahat dengan tenang" (go-meifuku o oinorishimasu) digunakan dalam upacara pemakaman Shinto atau Kristen?
Karena berasal dari istilah Buddha, sebaiknya dihindari dalam upacara Shinto maupun Kristen
Ungkapan serbaguna yang bisa digunakan tanpa masalah di semua agama
Bukan hanya khusus aliran Buddha, tetapi juga ungkapan standar dalam aliran Shinto
Istilah khusus yang hanya digunakan dalam upacara Kristen
Jawaban: A. Karena berasal dari istilah Buddha, sebaiknya dihindari dalam upacara Shinto maupun Kristen
Kata-kata yang berasal dari istilah Buddha seperti "meifuku" (kebahagiaan di alam baka) dan "jobutsu" (menjadi Buddha) sebaiknya dihindari dalam upacara Shinto maupun Kristen, dan dianggap lebih baik diganti dengan ungkapan seperti "semoga tenang" atau "semoga damai".
Tata Krama Makan
Soal 17 | Pantangan Sumpit: Watashibashi
Apa yang dimaksud dengan "watashibashi"?
Meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk/piring (dianggap sebagai isyarat "sudah tidak butuh lagi")
Menusukkan sumpit ke dalam makanan
Bimbang memilih makanan mana yang akan dimakan dengan sumpit
Menjilat makanan yang menempel pada sumpit
Jawaban: A. Meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk/piring (dianggap sebagai isyarat "sudah tidak butuh lagi")
Watashibashi adalah tindakan meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk/piring, dianggap sebagai isyarat "sudah tidak butuh lagi/sudah selesai makan", dan melakukannya di tengah makan dianggap melanggar tata krama.
Soal 18 | Pantangan Sumpit: Sashibashi dan Mayoibashi
Kombinasi yang benar untuk "sashibashi" dan "mayoibashi" adalah?
Sashibashi = menusuk makanan dengan sumpit untuk memakannya, mayoibashi = menggerak-gerakkan sumpit di atas makanan karena bimbang memilih
Sashibashi = meletakkan sumpit, mayoibashi = meneteskan kuah dengan sumpit
Sashibashi = menjilat sumpit, mayoibashi = menarik mangkuk dengan sumpit
Keduanya menunjuk pada tindakan yang sama
Jawaban: A. Sashibashi = menusuk makanan dengan sumpit untuk memakannya, mayoibashi = menggerak-gerakkan sumpit di atas makanan karena bimbang memilih
Sashibashi adalah tindakan menusuk makanan dengan sumpit untuk memakannya (terlihat seperti sedang memastikan apakah sudah matang, dan dianggap tidak sopan), sedangkan mayoibashi adalah menggerak-gerakkan sumpit di atas makanan karena bimbang memilih apa yang akan dimakan. Keduanya adalah cara penggunaan sumpit yang sebaiknya dihindari.
Soal 19 | Berbagai Pantangan Sumpit
Apa kesamaan dari "nebiribashi", "yosebashi", dan "namidabashi"?
Semuanya dianggap sebagai perilaku pantangan penggunaan sumpit yang harus dihindari
Di zaman sekarang, semuanya sudah dianggap sebagai tata krama yang bisa diterima
Perilaku yang justru dianjurkan di beberapa daerah
Tata krama yang hanya berlaku pada masakan Barat
Jawaban: A. Semuanya dianggap sebagai perilaku pantangan penggunaan sumpit yang harus dihindari
Nebiribashi (menjilat makanan yang menempel pada sumpit), yosebashi (menarik mangkuk/piring dengan sumpit), dan namidabashi (meneteskan kuah dari ujung sumpit) ketiganya dianggap sebagai pantangan dalam penggunaan sumpit pada masakan Jepang.
Soal 20 | Cara Memperlakukan Wadah Masakan Jepang
Apa tata cara yang benar saat makan dari wadah seukuran telapak tangan dalam masakan Jepang?
Mengangkat wadah untuk makan ("okizui", yaitu makan sambil wadah tetap diletakkan, dianggap melanggar tata krama)
Wadah harus selalu tetap diletakkan saat makan
Mengangkat wadah hanyalah hak istimewa orang yang lebih senior
Tata krama tetap sama tanpa memandang ukuran wadah
Jawaban: A. Mengangkat wadah untuk makan ("okizui", yaitu makan sambil wadah tetap diletakkan, dianggap melanggar tata krama)
Dalam masakan Jepang, wadah seukuran telapak tangan dianggap sebagai tata cara yang benar untuk diangkat saat makan, dan makan sambil wadah tetap diletakkan ("okizui") dianggap melanggar tata krama.
Soal 21 | Cara Membuka Tutup Mangkuk Sup
Apa tata cara yang benar saat membuka tutup mangkuk sup?
Membukanya perlahan sambil pergelangan tangan menggambar huruf "no"
Membukanya sekaligus dengan cepat
Meminum lewat celah tanpa membuka tutup
Mengangkatnya lurus ke atas dengan kedua tangan
Jawaban: A. Membukanya perlahan sambil pergelangan tangan menggambar huruf "no"
Tata cara membuka tutup mangkuk sup adalah membukanya perlahan sambil pergelangan tangan menggambar huruf "no" (の). Membukanya dengan cepat dan penuh tenaga dianggap melanggar tata krama.
Soal 22 | Perbedaan Kaiseki Ryori dan Kaiseki Ryori (Cha Kaiseki dan Shuen Kaiseki)
Apa perbedaan urutan penyajian antara "kaiseki ryori" (cha-kaiseki) dan "kaiseki ryori" (shuen-kaiseki)?
Cha-kaiseki menyajikan sup dan nasi terlebih dahulu, sedangkan shuen-kaiseki menyajikan nasi paling akhir (urutannya terbalik)
Keduanya disajikan dengan urutan yang sama
Baik cha-kaiseki maupun shuen-kaiseki sama-sama menyajikan nasi terlebih dahulu
Hanya beda sebutan saja, isinya sama
Jawaban: A. Cha-kaiseki menyajikan sup dan nasi terlebih dahulu, sedangkan shuen-kaiseki menyajikan nasi paling akhir (urutannya terbalik)
Cha-kaiseki adalah masakan yang disajikan dalam upacara minum teh, dengan ciri khas menyajikan sup dan nasi terlebih dahulu. Sementara itu, shuen-kaiseki adalah masakan yang disajikan dalam jamuan minum sake, dengan nasi disajikan paling akhir. Meski terdengar mirip, keduanya memiliki perbedaan urutan yang justru terbalik.
Soal 23 | Isyarat Pisau dan Garpu pada Masakan Barat
Meletakkan pisau dan garpu membentuk huruf "V" (ハ) di atas piring di tengah makan merupakan isyarat apa?
Isyarat bahwa masih akan melanjutkan makan
Isyarat bahwa sudah selesai makan
Isyarat ingin menambah porsi
Isyarat meminta untuk dihitung tagihannya
Jawaban: A. Isyarat bahwa masih akan melanjutkan makan
Meletakkan pisau dan garpu membentuk huruf "V" di atas piring adalah isyarat "masih akan melanjutkan makan". Jika diletakkan sejajar di sisi kanan bawah piring (posisi jam 4), itu menjadi isyarat "sudah selesai makan", dan berfungsi sebagai bentuk komunikasi kepada staf restoran.
Soal 24 | Cara Menggunakan Piring di Pesta Berdiri
Di pesta berdiri (buffet), apa tata krama yang benar saat menambah makanan?
Mengganti dengan piring baru (menumpuk makanan di piring yang sama atau memakai ulang piring adalah hal yang tidak boleh dilakukan)
Menumpuk makanan berturut-turut di piring yang sama
Menyiapkan banyak piring sekaligus dari awal
Mengambil makanan langsung dengan tangan tanpa piring
Jawaban: A. Mengganti dengan piring baru (menumpuk makanan di piring yang sama atau memakai ulang piring adalah hal yang tidak boleh dilakukan)
Di pesta berdiri, tata kramanya adalah menggunakan hanya 1 piring pada satu waktu, dan mengganti dengan piring baru saat menambah makanan. Piring dipegang dengan tangan kiri bersama gelas, sehingga tangan kanan bebas agar bisa segera bertukar kartu nama atau berjabat tangan.
Tata Krama Tempat Tinggal
Soal 25 | Alasan Tidak Boleh Menginjak Tepi Tatami (Bagian 1)
Apa salah satu alasan mengapa tepi tatami (heri) tidak boleh diinjak?
Karena tepi tatami dahulu pernah dihiasi lambang keluarga (kamon), sehingga "menginjak tepi = menginjak lambang keluarga" dianggap tidak sopan
Karena menginjak tepi membuat tatami melengkung
Hanya alasan praktis karena warna tepi mudah pudar
Karena ditetapkan dalam ajaran agama Buddha
Jawaban: A. Karena tepi tatami dahulu pernah dihiasi lambang keluarga (kamon), sehingga "menginjak tepi = menginjak lambang keluarga" dianggap tidak sopan
Salah satu alasannya adalah tepi tatami dahulu pernah dihiasi lambang keluarga (kamon), sehingga "menginjak tepi = menginjak lambang keluarga" dianggap tidak sopan.
Soal 26 | Alasan Tidak Boleh Menginjak Tepi Tatami (Bagian 2)
Ada juga teori keamanan mengenai alasan tidak boleh menginjak tepi tatami. Apa isinya?
Pada masa Perang Negara-Negara Sengaja hingga zaman Edo, ada bahaya pembunuh menusukkan pedang atau tombak dari bawah tatami atau celah tepinya
Karena menginjak tepi membuat lantai di bawah tatami mudah bolong
Karena ada kebiasaan menyembunyikan koin emas di posisi tepi
Karena menginjak tepi dipercaya menjadi penyebab kebakaran
Jawaban: A. Pada masa Perang Negara-Negara Sengaja hingga zaman Edo, ada bahaya pembunuh menusukkan pedang atau tombak dari bawah tatami atau celah tepinya
Ada teori bahwa pada masa Perang Negara-Negara Sengaja hingga zaman Edo, terdapat bahaya pembunuh menusukkan pedang atau tombak dari bawah tatami atau celah tepinya, sehingga kebiasaan menghindari tepi tatami mengakar sebagai cara melindungi diri.
Soal 27 | Cara Duduk di Bantal Zabuton
Ketika dipersilakan duduk di bantal zabuton, apa tata cara yang benar?
Tidak boleh duduk atas inisiatif sendiri sebelum dipersilakan. Setelah dipersilakan, mendekat dari samping sambil merangkak sedikit demi sedikit lalu duduk
Boleh langsung duduk dari atas begitu zabuton disediakan
Cara resminya adalah menginjak zabuton terlebih dahulu sebelum duduk
Tata krama yang rendah hati adalah tidak duduk di zabuton, melainkan meletakkannya di samping
Jawaban: A. Tidak boleh duduk atas inisiatif sendiri sebelum dipersilakan. Setelah dipersilakan, mendekat dari samping sambil merangkak sedikit demi sedikit lalu duduk
Tidak boleh duduk di zabuton atas inisiatif sendiri sebelum dipersilakan. Jika duduk lebih dulu, itu dianggap sebagai isyarat "menganggap diri sendiri lebih tinggi kedudukannya" dan dianggap tidak sopan. Setelah dipersilakan, tata cara resminya adalah mendekat dari samping sambil merangkak sedikit demi sedikit, menopang tubuh dengan kepalan tangan di atas zabuton, lalu mengangkat tubuh untuk duduk.
Soal 28 | Tata Cara Menyajikan Zabuton
Ketika menyajikan zabuton kepada tamu, apa gerakan yang benar?
Membawanya dalam keadaan dilipat dua dengan lipatan menghadap ke arah pembawa, lalu membukanya di depan tamu
Membukanya terlebih dahulu dan meletakkannya di sudut ruangan
Menyerahkannya dalam keadaan terlipat agar tamu membukanya sendiri
Meletakkannya sembarangan tanpa memedulikan sisi depan-belakang
Jawaban: A. Membawanya dalam keadaan dilipat dua dengan lipatan menghadap ke arah pembawa, lalu membukanya di depan tamu
Zabuton dibawa dalam keadaan dilipat dua dengan lipatan menghadap ke arah pembawa, lalu dibuka di depan tamu. Ini dianggap sebagai gerakan tradisional untuk menunjukkan bahwa "tidak ada yang disembunyikan" (bersih dan aman).
Soal 29 | Alasan Tokonoma Dianggap Tempat Duduk Terhormat
Mengapa area depan tokonoma (relung dekoratif) di ruangan tatami dianggap sebagai "tempat duduk terhormat" (kamiza)?
Berasal dari sistem status zaman Muromachi, sisa dari kebiasaan mendudukkan orang berstatus tinggi di "jodan no ma" (ruangan dengan lantai lebih tinggi satu tingkat)
Karena di tokonoma selalu disemayamkan rak dewa (kamidana)
Karena tokonoma berada dekat dengan peralatan pemanas ruangan
Hanya karena posisinya jauh dari pintu masuk ruangan
Jawaban: A. Berasal dari sistem status zaman Muromachi, sisa dari kebiasaan mendudukkan orang berstatus tinggi di "jodan no ma" (ruangan dengan lantai lebih tinggi satu tingkat)
Tokonoma dianggap sebagai tempat duduk terhormat karena berasal dari sistem status zaman Muromachi, di mana orang berstatus tinggi (tuan/penguasa) didudukkan di "jodan no ma", ruangan dengan lantai yang lebih tinggi satu tingkat, dan kebiasaan ini disederhanakan hingga membentuk tradisi tersebut. Setelah era Sen no Rikyu, tokonoma juga berkembang sebagai ruang spiritual untuk mengekspresikan musim.
Soal 30 | Tata Cara Melepas Sepatu
Apa tata cara yang benar saat melepas sepatu di pintu masuk (genkan)?
Melepas sepatu tanpa membelakangi tuan rumah, tetap menghadap ke arah depan tanpa berbalik
Berbalik membelakangi dan melepas sepatu dengan cepat dianggap gaya yang cerdas
Setelah melepas sepatu, segera berbalik untuk merapikannya
Tidak ada tata krama khusus, boleh dengan cara yang mudah saja
Jawaban: A. Melepas sepatu tanpa membelakangi tuan rumah, tetap menghadap ke arah depan tanpa berbalik
Di pintu masuk, tata cara resminya adalah melepas sepatu tanpa membelakangi tuan rumah, dengan tetap menghadap ke arah depan tanpa berbalik.
Soal 31 | Cara Merapikan Sepatu
Bagaimana arah dan posisi yang benar saat merapikan sepatu yang dilepas?
Merapikan dengan ujung sepatu menghadap ke luar (ke arah pintu genkan), diletakkan di sisi shimoza (posisi lebih rendah) dari genkan
Merapikan di tengah dengan ujung sepatu menghadap ke dalam rumah
Tidak perlu memedulikan arah, cukup dirapikan saja
Dirapikan lurus di sisi kamiza (posisi lebih tinggi)
Jawaban: A. Merapikan dengan ujung sepatu menghadap ke luar (ke arah pintu genkan), diletakkan di sisi shimoza (posisi lebih rendah) dari genkan
Sepatu yang dilepas dirapikan dengan ujung menghadap ke luar (ke arah pintu genkan). Ini berasal dari tata krama ruang teh agar bisa segera dipakai saat keadaan darurat, dan posisi merapikannya bukan di tengah genkan, melainkan di sisi "shimoza" yang dianggap resmi.
Soal 32 | Cara Membuka Fusuma
Apa tata cara resmi yang benar saat membuka fusuma (pintu geser)?
Membukanya sekitar 5 cm terlebih dahulu dengan pegangan tangan, kemudian membukanya tanpa suara sambil tangan menyusuri rangka (oyabone)
Membuka sekaligus hingga terbuka penuh dianggap lebih sopan
Tidak boleh menyapa sama sekali saat membuka
Tata kramanya adalah mendorongnya sedikit dengan kaki untuk membuka
Jawaban: A. Membukanya sekitar 5 cm terlebih dahulu dengan pegangan tangan, kemudian membukanya tanpa suara sambil tangan menyusuri rangka (oyabone)
Fusuma memiliki tata cara bertahap: duduk bersimpuh (seiza) sekitar dua kepalan tangan dari tengah, menyapa dengan "permisi", lalu membukanya sekitar 5 cm terlebih dahulu dengan pegangan tangan, kemudian membukanya tanpa suara hingga ke tengah sambil tangan menyusuri rangka (oyabone). Dengan sengaja menyisakan sekitar 5 cm saat membuka penuh dianggap sebagai perhatian untuk meninggalkan titik pegangan saat akan menutupnya kembali.
Tata Krama Menjamu Tamu
Soal 33 | Sudut dan Jenis Membungkuk (Ojigi)
Apa kombinasi yang benar untuk penggunaan sudut membungkuk (ojigi) yang berbeda-beda?
Eshaku (15 derajat) untuk salam berpapasan, keirei (30 derajat) untuk pertemuan pertama atau mengantar kepergian, saikeirei (45–90 derajat) untuk permintaan maaf atau ucapan terima kasih yang mendalam
Eshaku (45 derajat) untuk berpapasan, saikeirei (15 derajat) untuk permintaan maaf
Tidak ada perbedaan penggunaan berdasarkan sudut
Menyatukan semuanya dengan sudut yang sama dianggap resmi
Jawaban: A. Eshaku (15 derajat) untuk salam berpapasan, keirei (30 derajat) untuk pertemuan pertama atau mengantar kepergian, saikeirei (45–90 derajat) untuk permintaan maaf atau ucapan terima kasih yang mendalam
Aturan dasarnya adalah membedakan penggunaan: eshaku (15 derajat) untuk salam berpapasan, keirei (30 derajat) untuk pertemuan pertama atau mengantar kepergian, dan saikeirei (45–90 derajat) untuk situasi permintaan maaf atau ucapan terima kasih yang mendalam.
Soal 34 | Dasar Pertukaran Kartu Nama
Dalam pertukaran kartu nama dengan banyak orang, siapa yang secara dasar menyodorkan kartu nama terlebih dahulu?
Orang dengan posisi lebih rendah (pihak yang berkunjung) terlebih dahulu, dan jika ada banyak orang, dimulai dari yang jabatannya lebih tinggi
Orang dengan jabatan lebih tinggi menyodorkan terlebih dahulu
Orang yang lebih muda usianya menyodorkan terlebih dahulu
Tidak ada aturan urutan khusus
Jawaban: A. Orang dengan posisi lebih rendah (pihak yang berkunjung) terlebih dahulu, dan jika ada banyak orang, dimulai dari yang jabatannya lebih tinggi
Dasar pertukaran kartu nama adalah orang dengan posisi lebih rendah (pihak yang berkunjung) menyodorkan terlebih dahulu. Jika ada banyak orang, pertukaran dilakukan berurutan mulai dari yang jabatannya lebih tinggi.
Soal 35 | Cara Memegang Kartu Nama
Apa cara memegang yang benar saat menyerahkan kartu nama?
Memegang dengan kedua tangan, menyodorkannya setinggi dada ke arah tempat kartu nama (meishi-ire) milik lawan bicara
Menyerahkannya dengan cepat menggunakan satu tangan dianggap gaya yang cerdas
Mengeluarkannya langsung dari kantong tanpa menggunakan tempat kartu nama
Tidak masalah jika jari menutupi tulisan
Jawaban: A. Memegang dengan kedua tangan, menyodorkannya setinggi dada ke arah tempat kartu nama (meishi-ire) milik lawan bicara
Dasarnya adalah memegang kartu nama dengan kedua tangan dan menyodorkannya setinggi dada ke arah tempat kartu nama milik lawan bicara. Tempat kartu nama dianggap berperan sebagai "bantal zabuton untuk meletakkan kartu nama lawan bicara", dan poin pentingnya adalah memegangnya sedemikian rupa agar jari tidak menutupi tulisan.
Soal 36 | Cara Meletakkan Kartu Nama yang Diterima
Dalam pertemuan bisnis, setelah duduk, di mana biasanya kartu nama yang diterima diletakkan sebagai tata krama dasar?
Diletakkan di sisi kiri dari sudut pandang diri sendiri (jika banyak orang, disusun sesuai urutan tempat duduk)
Segera dimasukkan ke kantong atau tas
Ditumpuk di atas tempat kartu nama milik sendiri
Dibalik agar tidak terlihat oleh lawan bicara
Jawaban: A. Diletakkan di sisi kiri dari sudut pandang diri sendiri (jika banyak orang, disusun sesuai urutan tempat duduk)
Tata krama dasarnya adalah meletakkan kartu nama yang diterima di sisi kiri dari sudut pandang diri sendiri. Jika ada banyak orang, kartu nama disusun sesuai urutan tempat duduk sehingga memudahkan untuk mengetahui siapa yang mana.
Soal 37 | Cara Menyerahkan Oleh-Oleh (Perlakuan Terhadap Tas)
Saat menyerahkan oleh-oleh (temiyage), bagaimana perlakuan resmi terhadap tas kertas atau kain pembungkus (furoshiki)?
Mengeluarkan isinya terlebih dahulu sebelum menyerahkannya (tas berperan sebagai "pelindung debu")
Menyerahkannya dalam keadaan masih di dalam tas
Tidak menyerahkan tasnya, hanya membawa isinya saja
Membiarkan lawan bicara membawa pulang tasnya sekalian
Jawaban: A. Mengeluarkan isinya terlebih dahulu sebelum menyerahkannya (tas berperan sebagai "pelindung debu")
Karena tas kertas atau furoshiki berperan sebagai "pelindung debu", tata krama resminya adalah selalu mengeluarkan isinya terlebih dahulu sebelum menyerahkan. Furoshiki pada dasarnya dibawa pulang oleh orang yang membawanya, sehingga perlakuannya berbeda dari tas kertas.
Soal 38 | Arah Saat Menyerahkan Barang
Apa tata cara resmi yang diperkenalkan untuk menyerahkan suatu barang?
Meletakkannya terlebih dahulu dengan bagian depan menghadap diri sendiri, lalu memutarnya 180 derajat searah jarum jam sehingga bagian depan menghadap lawan bicara saat menyodorkannya
Meletakkannya sejak awal dengan bagian depan menghadap lawan bicara
Menyerahkannya dalam keadaan terbalik dianggap sebagai wujud kerendahan hati
Arah tidak perlu terlalu diperhatikan
Jawaban: A. Meletakkannya terlebih dahulu dengan bagian depan menghadap diri sendiri, lalu memutarnya 180 derajat searah jarum jam sehingga bagian depan menghadap lawan bicara saat menyodorkannya
Saat menyerahkan barang, diperkenalkan tata cara yang sopan: meletakkannya terlebih dahulu dengan bagian depan menghadap diri sendiri, lalu memutarnya 90 derajat sebanyak 2 kali (total 180 derajat) searah jarum jam sehingga bagian depan menghadap lawan bicara saat menyodorkannya.
Soal 39 | Waktu Menyerahkan Oleh-Oleh
Kapan waktu umum untuk menyerahkan oleh-oleh (temiyage) saat berkunjung ke rumah seseorang?
Setelah dipersilakan masuk ke ruangan dan salam resmi selesai dilakukan
Diserahkan lebih dulu tepat di pintu masuk
Diserahkan saat akan pulang
Tidak ada aturan mengenai waktu penyerahannya
Jawaban: A. Setelah dipersilakan masuk ke ruangan dan salam resmi selesai dilakukan
Saat berkunjung ke rumah seseorang, dasarnya adalah menyerahkan oleh-oleh setelah dipersilakan masuk ke ruangan dan salam resmi selesai dilakukan (dalam situasi bisnis, dilakukan setelah pertukaran kartu nama). Namun, ada juga pengecualian seperti barang segar yang lebih tepat diserahkan di pintu masuk, sehingga penilaian yang fleksibel juga diperlukan.
Latihan: kerjakan soal di halaman ini
Ini adalah alat latihan dengan soal acak (berfungsi jika JavaScript aktif). Semua soal dan penjelasan di atas tetap dapat dibaca tanpa alat ini.
* Penjelasan ini merupakan informasi umum, bukan konsultasi hukum perorangan maupun saran medis atau keselamatan. Peraturan dan sistem dapat berubah, jadi harap periksa informasi resmi terbaru.
Halaman ini adalah terjemahan dari teks asli berbahasa Jepang. Jika terdapat perbedaan antara terjemahan dan teks asli, versi bahasa Jepang yang berlaku. Lihat teks asli bahasa Jepang