Ruang Belajar Karinoya

SMA · Lab Ujian Berkala Matematika SMA

Bilangan dan Bentuk Aljabar, Himpunan dan Penalaran

Soal dan pembahasan dapat dibaca dalam Bahasa Indonesia. Materi kuliah (artikel penjelasan) hanya tersedia dalam bahasa Jepang.

Lihat versi bahasa Jepang (dengan materi kuliah) →

Soal 1 | Dasar penjabaran

Manakah hasil penjabaran dari (x+3)(x−3)?

  1. x²−3
  2. x²−6x+9
  3. x²+9
  4. x²−9
JawabanD. x²−9

Dengan rumus hasil kali jumlah dan selisih (a+b)(a−b)=a²−b², diperoleh x²−9. Bentuk x²+9 muncul dari kesalahan tanda, sedangkan x²−6x+9 muncul karena tertukar dengan (x−3)². Bisa juga diperiksa dengan menjabarkan langsung: x²−3x+3x−9.

Soal 2 | Penjabaran kuadrat

Manakah hasil penjabaran dari (x+2)²?

  1. x²+4x+2
  2. x²+4x+4
  3. x²+2x+4
  4. x²+4
JawabanB. x²+4x+4

Dengan (a+b)²=a²+2ab+b², diperoleh x²+2·x·2+2² = x²+4x+4. Bentuk x²+4 adalah kesalahan klasik karena suku tengah 2ab terlupakan. Menjabarkan (x+2)(x+2) dengan sifat distributif memberi x²+2x+2x+4, sehingga hasilnya dapat diperiksa.

Soal 3 | Penjabaran

Manakah hasil penjabaran dari (2x+3)(x−4)?

  1. 2x²−11x−12
  2. 2x²−5x+12
  3. 2x²+5x−12
  4. 2x²−5x−12
JawabanD. 2x²−5x−12

Karena 2x·x=2x², lalu 2x·(−4)+3·x=−8x+3x=−5x, dan 3·(−4)=−12, hasilnya 2x²−5x−12. Bentuk −11x muncul karena −8x dan 3x yang seharusnya dijumlahkan justru dihitung sebagai −8−3, sedangkan 2x²+5x−12 adalah kesalahan tanda.

Soal 4 | Pemfaktoran

Manakah hasil pemfaktoran dari x²+5x+6?

  1. (x−2)(x−3)
  2. (x+1)(x+5)
  3. (x+2)(x+3)
  4. (x+1)(x+6)
JawabanC. (x+2)(x+3)

Dua bilangan yang hasil kalinya 6 dan jumlahnya 5 adalah 2 dan 3, sehingga hasilnya (x+2)(x+3). Pada (x+1)(x+6) hasil kalinya memang 6 tetapi jumlahnya 7, sedangkan (x−2)(x−3) bila dijabarkan menjadi x²−5x+6 sehingga tandanya tidak cocok.

Soal 5 | Cara silang

Manakah hasil pemfaktoran dari 2x²+7x+3?

  1. (2x−1)(x+3)
  2. (2x+1)(x−3)
  3. (2x+1)(x+3)
  4. (2x+3)(x+1)
JawabanC. (2x+1)(x+3)

Dengan cara silang, uraikan 2=2×1 dan 3=1×3; jumlah hasil kali silangnya 2×3+1×1=7 sudah cocok, sehingga hasilnya (2x+1)(x+3). Bila (2x+3)(x+1) dijabarkan hasilnya 2x²+5x+3 sehingga koefisien x tidak cocok. Membiasakan diri memeriksa kembali dengan menjabarkan sangat penting.

Soal 6 | Cara silang

Manakah hasil pemfaktoran dari 3x²−10x+8?

  1. (3x−8)(x−1)
  2. (3x−2)(x−4)
  3. (3x+4)(x+2)
  4. (3x−4)(x−2)
JawabanD. (3x−4)(x−2)

Uraikan 3=3×1 dan 8=(−4)×(−2); jumlah hasil kali silangnya 3×(−2)+(−4)×1=−10 sudah cocok, sehingga hasilnya (3x−4)(x−2). Bila (3x−2)(x−4) dijabarkan hasilnya 3x²−14x+8, sedangkan (3x+4)(x+2) memberi 3x²+10x+8 yang tandanya berlawanan.

Soal 7 | Cara silang

Manakah hasil pemfaktoran dari 6x²+x−2?

  1. (2x−2)(3x+1)
  2. (2x−1)(3x+2)
  3. (2x+1)(3x−2)
  4. (6x−1)(x+2)
JawabanB. (2x−1)(3x+2)

Uraikan 6=2×3 dan −2=(−1)×2; jumlah hasil kali silangnya 2×2+(−1)×3=1 sudah cocok, sehingga hasilnya (2x−1)(3x+2). Bila (2x+1)(3x−2) dijabarkan hasilnya 6x²−x−2 sehingga tanda koefisien x menjadi berlawanan.

Soal 8 | Pemfaktoran dengan penataan

Manakah hasil pemfaktoran dari x²−y²+4y−4?

  1. (x+y−2)(x−y+2)
  2. (x+y−2)(x−y−2)
  3. (x−y+2)(x−y−2)
  4. (x+y+2)(x−y−2)
JawabanA. (x+y−2)(x−y+2)

Tiga suku terakhir dirangkum menjadi −(y²−4y+4)=−(y−2)², sehingga bentuknya x²−(y−2)². Dengan A²−B²=(A+B)(A−B) dan A=x, B=y−2, hasilnya (x+y−2)(x−y+2). Salah membagikan tanda pada B menghasilkan bentuk lain. Sebaiknya diperiksa kembali dengan menjabarkan untuk melihat apakah kembali ke bentuk semula.

Soal 9 | Bentuk bikuadrat

Manakah hasil pemfaktoran dari x⁴−5x²+4?

  1. (x+1)(x−1)(x+2)(x−2)
  2. (x²+1)(x²+4)
  3. (x−1)(x+1)(x²+4)
  4. (x+1)²(x−2)²
JawabanA. (x+1)(x−1)(x+2)(x−2)

Dengan pemisalan x²=t diperoleh t²−5t+4=(t−1)(t−4). Kembalikan ke x² menjadi (x²−1)(x²−4), lalu faktorkan masing-masing dengan A²−B² sehingga menjadi (x+1)(x−1)(x+2)(x−2). Pemfaktoran dilakukan sampai tidak dapat dipecah lagi.

Soal 10 | Pemisalan

Manakah hasil pemfaktoran dari (x²+x)²−8(x²+x)+12?

  1. (x²+x−3)(x²+x−4)
  2. (x+2)(x−1)(x+3)(x−2)
  3. (x−2)(x+1)(x−3)(x+2)
  4. (x²−x−2)(x²−x−6)
JawabanB. (x+2)(x−1)(x+3)(x−2)

Dengan pemisalan x²+x=t diperoleh t²−8t+12=(t−2)(t−6). Setelah dikembalikan menjadi (x²+x−2)(x²+x−6)=(x+2)(x−1)(x+3)(x−2). Pasangan bilangan yang hasil kalinya 12 dan jumlahnya −8 adalah −2 dan −6; pasangan −3 dan −4 tidak cocok karena jumlahnya −7.

Soal 11 | Menyederhanakan bentuk akar

Manakah hasil penyederhanaan dari √12?

  1. 3√2
  2. 6
  3. 2√3
  4. 4√3
JawabanC. 2√3

√12=√(4×3)=√4×√3=2√3, yaitu faktor kuadrat 4 dikeluarkan dari tanda akar. Bentuk 3√2 muncul dari penguraian yang keliru seolah 12=9×2… (padahal 9×2=18, jadi salah). Secara numerik pun √12≒3.46 dan 2√3≒3.46 sehingga cocok.

Soal 12 | Penjumlahan bentuk akar

Manakah hasil perhitungan dari √27+√12?

  1. 6√3
  2. 5√6
  3. 5√3
  4. √39
JawabanC. 5√3

Keluarkan dulu faktornya: √27=3√3 dan √12=2√3, lalu jumlahkan suku sejenis sehingga 3√3+2√3=5√3. Bentuk √39 adalah kesalahan karena isi akar langsung dijumlahkan. Isi tanda akar hanya boleh digabung pada perkalian dan pembagian.

Soal 13 | Hasil kali jumlah dan selisih

Manakah hasil perhitungan dari (√5+√2)(√5−√2)?

  1. 3
  2. 7
  3. 10
  4. √3
JawabanA. 3

Dengan (a+b)(a−b)=a²−b² diperoleh (√5)²−(√2)²=5−2=3. Nilai 7 muncul karena keliru menjumlahkan 5+2, sedangkan √3 muncul karena tanda akar dibiarkan tetap ada.

Soal 14 | Merasionalkan penyebut

Manakah hasil merasionalkan penyebut dari 1/√3?

  1. 1/3
  2. √3/9
  3. √3/3
  4. √3
JawabanC. √3/3

Kalikan pembilang dan penyebut dengan √3 sehingga √3/(√3×√3)=√3/3; penyebutnya menjadi (√3)²=3. Bentuk √3/9 adalah kesalahan karena penyebutnya dianggap 3².

Soal 15 | Merasionalkan penyebut

Manakah hasil merasionalkan penyebut dari 2/(√5−√3)?

  1. √5+√3
  2. 2(√5+√3)
  3. √5−√3
  4. (√5+√3)/4
JawabanA. √5+√3

Kalikan pembilang dan penyebut dengan bentuk sekawan √5+√3 sehingga penyebutnya menjadi 5−3=2. Jadi 2(√5+√3)/2=√5+√3. Bentuk 2(√5+√3) muncul karena lupa menyederhanakan dengan 2 di akhir, sedangkan (√5+√3)/4 mudah muncul bila penyebut keliru dihitung 5+3=8.

Soal 16 | Kuadrat bentuk akar

Manakah hasil perhitungan dari (√3+√2)²?

  1. 5+2√6
  2. 5
  3. 6+2√6
  4. 5+√6
JawabanA. 5+2√6

Dengan (a+b)²=a²+2ab+b² diperoleh 3+2√3·√2+2=5+2√6. Nilai 5 muncul karena suku tengah 2ab terlupakan, sedangkan 5+√6 muncul karena lupa mengalikan dengan 2.

Soal 17 | Nilai mutlak

Manakah bentuk |3−π| yang ditulis tanpa tanda nilai mutlak? Di sini π=3.14…

  1. π−3
  2. 0
  3. 3−π
  4. 3+π
JawabanA. π−3

Karena π>3, isi tanda mutlak yaitu 3−π bernilai negatif. Untuk nilai negatif berlaku |a|=−a, sehingga |3−π|=−(3−π)=π−3. Jika tanda mutlak dilepas begitu saja menjadi 3−π, hasilnya negatif; nilai mutlak (yaitu jarak) tidak mungkin negatif, dan dari situ kekeliruannya dapat diperiksa.

Soal 18 | Bagian bulat dan bagian pecahan

Jika bagian bulat dari √7 adalah a dan bagian pecahannya adalah b, manakah pasangan a dan b yang benar?

  1. a=3, b=3−√7
  2. a=2, b=√7−3
  3. a=3, b=√7−3
  4. a=2, b=√7−2
JawabanD. a=2, b=√7−2

Karena 4<7<9 maka 2<√7<3, sehingga bagian bulatnya a=2. Bagian pecahan adalah bilangan semula dikurangi bagian bulatnya, yaitu b=√7−2 (memenuhi 0≦b<1). Bentuk √7−3 bernilai negatif sehingga tidak dapat menjadi bagian pecahan.

Soal 19 | Bentuk simetri

Jika x=1/(2−√3), manakah nilai dari x²+1/x²?

  1. 16
  2. 4
  3. 18
  4. 14
JawabanD. 14

Setelah penyebut dirasionalkan diperoleh x=2+√3 dan 1/x=2−√3. Karena x+1/x=4, maka x²+1/x²=(x+1/x)²−2=16−2=14. Nilai 16 muncul karena suku −2 terlupakan sehingga berhenti pada (x+1/x)². Memang x²=7+4√3 dan 1/x²=7−4√3, sehingga jumlahnya 14.

Soal 20 | Bentuk simetri

Jika x+1/x=3, manakah nilai dari x³+1/x³?

  1. 24
  2. 18
  3. 27
  4. 7
JawabanB. 18

x³+1/x³=(x+1/x)³−3(x+1/x)=27−9=18. Nilai 27 muncul karena suku koreksi −3(x+1/x) terlupakan, sedangkan 24 muncul karena hanya dikurangi 3. Nilai 7 adalah nilai x²+1/x², yaitu besaran yang berbeda.

Soal 21 | Pertidaksamaan linear

Manakah penyelesaian dari pertidaksamaan 3x−5>4?

  1. x>3
  2. x>1/3
  3. x>9
  4. x<3
JawabanA. x>3

Setelah dipindahkan ruas diperoleh 3x>9, lalu dibagi bilangan positif 3 sehingga x>3. Saat membagi dengan bilangan positif, arah tanda pertidaksamaan tidak berubah. Jawaban x>9 muncul karena lupa membagi dengan 3.

Soal 22 | Pembalikan arah tanda

Manakah penyelesaian dari pertidaksamaan −2x+3≦9?

  1. x≦−3
  2. x≦3
  3. x≧−6
  4. x≧−3
JawabanD. x≧−3

Setelah dipindahkan ruas diperoleh −2x≦6. Karena dibagi bilangan negatif −2, arah tanda pertidaksamaan berbalik sehingga x≧−3. Jawaban x≦−3 adalah kesalahan klasik karena lupa membalik arah tanda. Bila x=0 disubstitusikan, diperoleh 3≦9 yang benar, sehingga x≧−3 yang memuat 0 dapat dipastikan tepat.

Soal 23 | Pertidaksamaan linear

Manakah penyelesaian dari pertidaksamaan 4x−1<2x+5?

  1. x<3
  2. x>3
  3. x<2/3
  4. x<2
JawabanA. x<3

Pindahkan 2x ke kiri dan −1 ke kanan sehingga 2x<6, jadi x<3. Jawaban x<2 muncul karena keliru menghitung 5−1=4 lalu menulis 2x<4. Bila diperiksa dengan x=0, diperoleh −1<5 yang benar, dan 0 memang termasuk penyelesaian sehingga konsisten.

Soal 24 | Koefisien pecahan

Manakah penyelesaian dari pertidaksamaan x/2−1>x/3?

  1. x>6
  2. x>−6
  3. x<6
  4. x>1
JawabanA. x>6

Kalikan kedua ruas dengan 6 sehingga 3x−6>2x, lalu pindahkan ruas sehingga x>6. Jawaban x>1 muncul karena suku konstan −1 lupa dikalikan 6 sehingga tertulis 3x−1>2x. Saat menghilangkan penyebut, suku konstan pun harus dikalikan dengan bilangan yang sama.

Soal 25 | Sistem pertidaksamaan

Manakah penyelesaian dari sistem pertidaksamaan 2x−1>3 dan 3x+2≦x+10?

  1. 2<x<4
  2. 2≦x≦4
  3. 2<x≦4
  4. 2≦x<4
JawabanC. 2<x≦4

Dari yang pertama diperoleh x>2 (nilai 2 tidak termasuk), sedangkan yang kedua memberi 2x≦8 sehingga x≦4 (nilai 4 termasuk). Irisannya adalah 2<x≦4. Termasuk atau tidaknya titik ujung mengikuti tanda pertidaksamaan aslinya (> dan ≦).

Soal 26 | Persamaan nilai mutlak

Manakah penyelesaian dari persamaan |x|=5?

  1. x=5
  2. x=±5
  3. x=±√5
  4. x=−5
JawabanB. x=±5

Pada garis bilangan terdapat dua titik yang berjarak 5 dari titik asal, yaitu x=5 dan x=−5, yang dirangkum sebagai x=±5. Bila hanya nilai positif yang dijawab, satu penyelesaian akan hilang.

Soal 27 | Pertidaksamaan nilai mutlak

Manakah penyelesaian dari pertidaksamaan |x−2|<3?

  1. −1<x<5
  2. −5<x<1
  3. x<5
  4. −3<x<3
JawabanA. −1<x<5

Bentuk |X|<c berarti −c<X<c. Dari −3<x−2<3, tambahkan 2 pada setiap ruas sehingga −1<x<5. Jawaban −3<x<3 adalah kesalahan karena pergeseran isi (−2) diabaikan. Bila x=0 disubstitusikan, |−2|=2<3 terpenuhi, dan itu sesuai dengan 0 yang termasuk dalam rentang penyelesaian.

Soal 28 | Pertidaksamaan nilai mutlak

Manakah penyelesaian dari pertidaksamaan |x+1|≧4?

  1. −5≦x≦3
  2. x≦−3 atau x≧5
  3. x≦−5 atau x≧3
  4. x≧3
JawabanC. x≦−5 atau x≧3

Bentuk |X|≧c berarti bagian luar, yaitu X≦−c atau X≧c. Dari x+1≦−4 atau x+1≧4 diperoleh x≦−5 atau x≧3. Bentuk yang mengapit di bagian dalam berlaku untuk |X|≦c, dan kekeliruan klasik adalah menukar keduanya. Untuk x=0 diperoleh |1|=1 yang tidak memenuhi, sehingga sesuai dengan jawaban ini yang tidak memuat 0.

Soal 29 | Menentukan konstanta dari penyelesaian

Manakah nilai konstanta a agar penyelesaian pertidaksamaan 5x−3<2x+a menjadi x<4?

  1. a=9
  2. a=12
  3. a=15
  4. a=1
JawabanA. a=9

Setelah dirapikan diperoleh 3x<a+3, yaitu x<(a+3)/3. Syarat agar ini sama dengan x<4 adalah (a+3)/3=4, sehingga a=9. Jawaban a=12 muncul karena menulis a/3=4 dan menghilangkan konstanta 3, sedangkan a=1 muncul dari a+3=4. Untuk a=9 dapat pula diperiksa bahwa kedua ruas sama saat x=4.

Soal 30 | Banyaknya penyelesaian bulat

Ada berapa bilangan bulat x yang memenuhi sistem pertidaksamaan x+3>1 dan 2x−1≦5?

  1. 4 bilangan
  2. 5 bilangan
  3. 6 bilangan
  4. 7 bilangan
JawabanB. 5 bilangan

Karena x>−2 dan x≦3, maka −2<x≦3. Bilangan bulat dalam rentang ini adalah −1, 0, 1, 2, dan 3, yaitu 5 bilangan. Nilai −2 tidak termasuk (pada x>−2 tidak ada tanda sama dengan), sehingga jawaban 6 keliru. Cara yang paling aman adalah menuliskan satu per satu sambil memperhatikan titik ujungnya.

Soal 31 | Irisan

Jika A={1, 2, 3, 4, 5, 6} dan B={2, 4, 6, 8}, manakah A∩B?

  1. {1, 2, 3, 4, 5, 6, 8}
  2. {8}
  3. {1, 3, 5}
  4. {2, 4, 6}
JawabanD. {2, 4, 6}

A∩B adalah himpunan anggota yang termuat di kedua himpunan. Di antara anggota B yaitu 2, 4, 6, 8, yang juga termuat di A adalah 2, 4, 6. Himpunan {1, 2, 3, 4, 5, 6, 8} adalah A∪B (gabungan); tertukarnya ∩ dan ∪ merupakan kesalahan klasik.

Soal 32 | Gabungan

Jika A={1, 2, 3, 4, 5, 6} dan B={2, 4, 6, 8}, manakah A∪B?

  1. {1, 2, 3, 4, 5, 6, 8}
  2. {1, 2, 3, 4, 5, 6}
  3. {2, 4, 6}
  4. {8}
JawabanA. {1, 2, 3, 4, 5, 6, 8}

A∪B adalah semua anggota yang termuat di sekurang-kurangnya salah satu himpunan. Tambahkan 8 yang hanya ada di B ke anggota A sehingga diperoleh {1, 2, 3, 4, 5, 6, 8}. Anggota yang sama cukup ditulis satu kali. Himpunan {2, 4, 6} adalah irisan A∩B.

Soal 33 | Komplemen

Jika himpunan semesta U={1, 2, …, 10} dan A={2, 4, 6, 8, 10}, manakah komplemen dari A?

  1. {2, 4, 6, 8, 10}
  2. himpunan kosong
  3. {1, 2, …, 10}
  4. {1, 3, 5, 7, 9}
JawabanD. {1, 3, 5, 7, 9}

Komplemen adalah anggota U yang tidak termuat di A. Setelah bilangan genap dikeluarkan, tersisa bilangan ganjil {1, 3, 5, 7, 9} sebagai jawabannya. Komplemen selalu ditentukan setelah himpunan semesta U ditetapkan lebih dulu.

Soal 34 | De Morgan

Untuk himpunan A dan B, manakah yang selalu sama dengan komplemen dari A∪B?

  1. Ā∩B (irisan komplemen A dan B)
  2. Ā∩B̄ (irisan komplemen A dan komplemen B)
  3. A∩B
  4. Ā∪B̄ (gabungan komplemen A dan komplemen B)
JawabanB. Ā∩B̄ (irisan komplemen A dan komplemen B)

Menurut hukum De Morgan, saat komplemen diambil, ∪ dan ∩ saling bertukar. Komplemen dari A∪B adalah Ā∩B̄. Hal ini dapat diperiksa dengan diagram Venn: tidak termuat di A maupun di B sama dengan berada di luar A sekaligus di luar B. Adapun Ā∪B̄ justru merupakan komplemen dari A∩B.

Soal 35 | Syarat perlu dan cukup

Bagi pernyataan x²=9, x=3 merupakan syarat apa?

  1. syarat cukup tetapi bukan syarat perlu
  2. bukan syarat perlu maupun syarat cukup
  3. syarat perlu tetapi bukan syarat cukup
  4. syarat perlu sekaligus syarat cukup
JawabanA. syarat cukup tetapi bukan syarat perlu

Implikasi x=3 ⇒ x²=9 bernilai benar. Kebalikannya, x²=9 ⇒ x=3, bernilai salah karena ada contoh penyangkal x=−3. Karena x=3 berada di sisi pengandaian yang implikasinya berlaku, x=3 adalah syarat cukup tetapi bukan syarat perlu.

Soal 36 | Syarat perlu dan cukup

Bagi pernyataan x>2, x>0 merupakan syarat apa?

  1. syarat cukup tetapi bukan syarat perlu
  2. syarat perlu sekaligus syarat cukup
  3. syarat perlu tetapi bukan syarat cukup
  4. bukan syarat perlu maupun syarat cukup
JawabanC. syarat perlu tetapi bukan syarat cukup

Implikasi x>2 ⇒ x>0 bernilai benar sehingga x>0 adalah syarat perlu. Sebaliknya x>0 ⇒ x>2 bernilai salah karena ada contoh penyangkal x=1, jadi bukan syarat cukup. Mudah diingat lewat hubungan pemuatan rentang: syarat yang rentangnya lebih luas (x>0) menjadi syarat perlu.

Soal 37 | Pembuktian dengan kontradiksi

Pernyataan bahwa √2 adalah bilangan irasional dibuktikan dengan cara kontradiksi. Manakah pengandaian awal yang tepat?

  1. Diandaikan √2 adalah bilangan irasional
  2. Diandaikan √2 adalah bilangan rasional
  3. Diandaikan 2 adalah bilangan rasional
  4. Diandaikan √2 adalah bilangan bulat
JawabanB. Diandaikan √2 adalah bilangan rasional

Dalam pembuktian dengan kontradiksi, yang diandaikan adalah ingkaran dari kesimpulan yang hendak ditunjukkan. Ingkaran dari bilangan irasional adalah bilangan rasional. Bila dimisalkan sebagai pecahan paling sederhana q/p lalu diteruskan, ternyata p dan q keduanya genap sehingga bertentangan dengan bentuk paling sederhana, dan terlihatlah bahwa pengandaian itu keliru.

Soal 38 | Konvers sebuah pernyataan

Manakah konvers dari pernyataan jika x=1 maka x²=1?

  1. Jika x²≠1 maka x≠1
  2. Jika x=1 maka x²≠1
  3. Jika x≠1 maka x²≠1
  4. Jika x²=1 maka x=1
JawabanD. Jika x²=1 maka x=1

Konvers diperoleh dengan menukar pengandaian dan kesimpulan, yaitu jika x²=1 maka x=1. Konvers ini sendiri bernilai salah karena ada contoh penyangkal x=−1, sehingga menjadi contoh bahwa pernyataan yang benar belum tentu konversnya benar. Bila pengandaian dan kesimpulan diingkarkan diperoleh invers, dan bila keduanya dilakukan sekaligus diperoleh kontraposisi.

Soal 39 | Kontraposisi

Manakah kontraposisi dari pernyataan jika n² genap maka n genap?

  1. Jika n ganjil maka n² ganjil
  2. Jika n² ganjil maka n ganjil
  3. Jika n ganjil maka n² genap
  4. Jika n genap maka n² genap
JawabanA. Jika n ganjil maka n² ganjil

Kontraposisi adalah ingkaran kesimpulan ⇒ ingkaran pengandaian. Ingkaran dari n genap adalah n ganjil, dan ingkaran dari n² genap adalah n² ganjil, sehingga kontraposisinya adalah jika n ganjil maka n² ganjil. Bentuk ini mudah dibuktikan secara langsung dan dapat dipakai untuk membuktikan pernyataan semula.

Soal 40 | Syarat perlu dan cukup

Misalkan a dan b bilangan real. Bagi pernyataan a=b, |a|=|b| merupakan syarat apa?

  1. syarat perlu tetapi bukan syarat cukup
  2. bukan syarat perlu maupun syarat cukup
  3. syarat cukup tetapi bukan syarat perlu
  4. syarat perlu sekaligus syarat cukup
JawabanA. syarat perlu tetapi bukan syarat cukup

Implikasi a=b ⇒ |a|=|b| bernilai benar sehingga |a|=|b| adalah syarat perlu. Sebaliknya |a|=|b| ⇒ a=b bernilai salah karena ada contoh penyangkal a=1, b=−1 (|1|=|−1| tetapi 1≠−1), jadi bukan syarat cukup. Dengan demikian ia syarat perlu tetapi bukan syarat cukup.

Latihan: kerjakan soal di halaman ini

Ini adalah alat latihan dengan soal acak (berfungsi jika JavaScript aktif). Semua soal dan penjelasan di atas tetap dapat dibaca tanpa alat ini.

* Materi ini untuk mengecek isi pelajaran SMA. Jika penulisan atau penjelasannya berbeda dengan buku pelajaran atau pengajaran di sekolah, utamakan buku pelajaran dan penjelasan guru.

Halaman ini adalah terjemahan dari teks asli berbahasa Jepang. Jika terdapat perbedaan antara terjemahan dan teks asli, versi bahasa Jepang yang berlaku. Lihat teks asli bahasa Jepang